Diskusi Terbuka FPR: Rakyat Bersatu, Lawan SBY-Kalla!

YTKI-Jakarta (28/4)—Krisis ekonomi yang kian kronis memberikan syarat-syarat politik yang mempersatukan rakyat. Front Perjuangan Rakyat (FPR) yang terdiri dari serikat-serikat buruh, serikat tani, pemuda, mahasiswa, perempuan, kaum miskin perkotaan, dan kalangan miskin dan marjinal lainnya, serta kalangan-kalangan LSM dan intelektual, adalah salah satu manifestasi dari kenyataan tersebut.

“Krisis ini ibarat bensin yang telah ditaburkan secara intensif pada percikan-percikan protes yang tumbuh di berbagai penjuru negeri dan menjadikannya kobaran api gerakan sosial di Indonesia,” tegas Emilia Yanti, Sekretaris Jenderal Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) di sela-sela diskusi terbuka FPR, Senin (28/4).

Masih menurut Yanti, krisis telah menjadikan peringatan hari buruh se-dunia yang akan jatuh pada tanggal 1 Mei 2008 yang akan datang sebagai panggung bagi rakyat untuk memuncakkan tuntutan-tuntutan rakyat untuk menjadi diskursus politik kekuasaan. “Kita harus memaksa SBY-Kalla untuk menghentikan krisis dengan memaksa mereka menjalankan program-program yang dituntut rakyat.

Sejalan dengan Yanti, Sekretaris Jenderal Aliansi Gerakan Reforma Agraria, Erpan Faryadi, juga memberikan penilaian yang relatif sama. Menurutnya, krisis pangan yang terjadi pada saat ini sesungguhnya tidak terlepas dari krisis ekonomi dalam system kapitalisme monopoli yang pada intinya berasal dari pertentangan antara kerja dan kapital. Pertentangan ini menjadi sumbu dari berbagai krisis yang terjadi, baik di lapangan industri, di lapangan agraria, maupun di lapangan penghidupan rakyat lainnya.

“Industrialisasi nasional dan reforma agraria sejati adalah dua jawaban utama atas krisis ekonomi Indonesia. Kedua program ini akan menjadi basis yang kokoh yang bisa menopang berbagai upaya rakyat untuk keluar dari krisis ekonomi Indonesia dan dunia,” tandas Erpan.

Sementara itu, Don K. Marut, Direktur INFID, yang juga turut berbicara dalam kesempatan itu menyatakan bahwa elemen-elemen komprador yang menggurita dalam pemerintahan Indonesia pasca Soeharto adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas berlanjutnya krisis ekonomi di Indonesia. Mereka telah menanamkan program-program neoliberal di berbagai jajaran pemerintahan, tidak hanya di pusat, melainkan juga di berbagai daerah dan instansi BUMN.

Tentu saja mereka tidak bekerja untuk rakyat, melainkan untuk melapangkan jalan bagi ekspansi modal asing mengeruk kekayaan alam Indonesia. Don mencontohkan bagaimana kinerja unsur-unsur Bank Dunia dalam pemerintah Kabupaten Bogor yang berhasil mendorong kabupaten tersebut mengajukan permohonan dana bantuan kepada Bank Dunia untuk privatisasi dan komersialisasi air.

Don juga mencontohkan bagaimana unsur-unsur dari Bank Dunia melalui program perbaikan kinerja perkeretaapian telah mendorong privatisasi PT Kereta Api, sarana vital transportasi publik di Indonesia. Tidak hanya itu, program ini juga berujung pada PHK terhadap 5000 buruh kereta api yang celakanya tidak mampu menyulut simpati publik akibat buruknya kinerja perusahaan tersebut. “Singkatnya,” tegas Don, “program Bank Dunia di PT Kereta Api telah gagal dan menciptakan kesengsaraan bagi rakyat, khususnya para pekerja PT Kereta Api”.

Surya Tjandra, direktur Trade Union Right Center (TURC), menyatakan upaya untuk merajut kembali diskusi-diskusi multisektor seperti yang diselenggarakan oleh Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah langkah maju yang sebenarnya telah menjadi tradisi dalam periode sebelumnya. Tradisi ini sempat terhenti cukup lama karena masing-masing sektor lebih sibuk dengan urusan sektornya sendiri.

Menurut Surya, May Day tahun ini akan sangat meriah karena berbagai elemen, tidak hanya buruh, turut serta memperingati hari buruh se-dunia. Artinya, telah muncul suatu suasana baru dalam tradisi gerakan sosial di Indonesia yang patut dikembangkan. “Ini merupakan inisiatif yang sangat baik. Kita patut bersyukur atas adanya FPR yang berhasil menyelenggarakan diskusi ini.”

Menurut Surya, yang sebelumnya dikenal sebagai pengacara perburuhan yang militant, gerakan rakyat harus mampu keluar dari ‘jebakan’ sektoralnya masing-masing dan berani merajut komunikasi horizontal untuk memperkokoh persatuan gerakan rakyat. “Kita perlu menjadikan May day 2008 ini dan peringatan may day di tahun-tahun yang akan datang sebagai peringatan may day yang istimewa. Peringatan yang mampu memperkukuh dan mengentalkan persatuan gerakan rakyat,” tegas Surya.

Diskusi luas ini diselenggarakan oleh Front Perjuangan Rakyat, sebuah aliansi multisektoral yang terdiri dari GSBI, SB-API, OPSI, Forum Buruh Cengkareng, Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia, Aliansi Gerakan Reforma Agraria, Sarekat Hijau Indonesia, Front Mahasiswa Nasional, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Gerakan Mahasiswa Nasionalis Kerakyatan, Liga Pemuda Bekasi, dan beberapa elemen lainnya.

Guliran diskusi berikutnya akan diselenggarakan di INFID (International NGO Forum for Indonesia Development) di Jalan Mampang Prapatan XI No. 23 Jakarta. Diskusi tersebut akan mengambil tema yang kurang lebih sama. Juga terbuka untuk berbagai kalangan untuk mengikutinya.

Menurut rencana FPR akan menyelenggarakan aksi di 23 kota di Indonesia dari Medan sampai Palu. Tema May Day 2008 ini adalah “Peringati Hari Buruh se-Dunia dengan Persatuan Rakyat Buruh dan Tani melawan rejim SBY-Kalla.” Adapun sub-tema tuntutannya adalah: “Turunkan Harga sembako, Hapuskan Outsourcing, Tolak Sistem Kerja Kontrak, Laksanakan reforma agraria sejati, sediakan lapangan pekerjaan dengan upah layak, dan hapuskan overcharging.”

Selain di Indonesia, FPR juga akan menyelenggarakan aksi memperingati May Day di Hong Kong dan Macau yang diikuti oleh buruh-buruh migrant Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (PILAR) dan Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR). Ribuan orang akan memadati jalan-jalan di berbagai kota untuk menyuarakan tuntutan yang sama.

Informasi lain silakan klik https://fprsatumei.wordpress.com/

Referensi
Rudhi HB Daman
(Koordinator Front Perjuangan Rakyat)
Telepon 0818-08974078
E-mail fprsatumei@gmail.com, gsbi_pusat@yahoo.com

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s