Ribuan Buruh Kepung Istana

Kompas, 2 Mei 2008–Ibu kota Jakarta kemarin menjadi “milik” buruh. Puluhan ribu pekerja membanjiri jalan-jalan protokol. Mereka memperingati hari buruh yang populer disebut May Day dengan berunjuk rasa damai untuk menyuarakan aspirasi.

Demo sedikitnya diadakan di lima titik. Plus long march menuju Istana Negara. Lokasi unjuk rasa adalah Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Bundaran Hotel Indonesia, gedung DPR Senayan, Lapangan Banteng, Kantor Jamsostek, dan Istana Negara.

Istana Negara dikepung sekitar sepuluh ribu buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM). Tapi, para demonstran kecewa karena istana kosong. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beristirahat di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah.

Istana Negara seperti menjadi muara long march ribuan buruh. Mereka datang dari sejumlah titik pemberangkatan, yakni Bundaran Hotel Indonesia, Tugu Proklamasi, dan Lapangan Banteng. Mereka membawa puluhan panji-panji organisasi serikat buruh dan mahasiswa serta ribuan spanduk. Melalui pengeras suara, orator meneriakkan tuntutan perbaikan nasib buruh kepada pemerintah dan pengusaha.

Demonstran juga membawa sejumlah ogoh-ogoh sapi yang menyimbolkan nasib buruh yang saat ini sekadar menjadi sapi perahan. Sejumlah demonstran juga mengusung orang-orangan yang digantung di tiang bambu, lambang nasib kaum buruh yang marginal. “Ogoh-ogoh ini melambangkan nasib buruh migran yang hanya menjadi sapi perahan atau penghasil devisa belaka tanpa perlindungan maksimal,” tegas Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah.

Anis menegaskan, nasib buruh migran semakin terpuruk karena BNP2TKI yang menjadi mandataris UU Nomor 39 Tahun 2004 tidak memiliki konsep untuk melindungi buruh migran. “Realitanya buruh migran dari hari ke hari hanya menjadi komoditas,” tegasnya.

Di depan Istana Merdeka, teriakan kekecewaan kepada pemerintah memuncak karena Presiden SBY enggan menemui demonstran. Mereka menilai kebijakan pemerintah tidak berpihak pada nasib buruh. Kesejahteraan yang dijanjikan dalam kampanye pemilu tak terwujud karena mereka menilai pemerintah menganakemaskan pengusaha dibanding buruh. “Kaum buruh ditekan supaya gajinya tetap kecil, sementara pengusaha terus diberi fasilitas agar kekayaannya bertambah,” teriak seorang orator ABM.

Karena Istana Merdeka ditinggalkan penghuninya, orator juga sempat mengajak buruh mengambil alih Istana Kepresidenan. Namun, ucapan itu hanya gertakan. Sebab, lebih dari tiga ribu aparat Polda Metro Jaya sejak pagi membuat pagar betis di depan Istana Merdeka, antara gedung Mahkamah Agung hingga gedung Mahkamah Konstitusi.

Massa sempat meringsek hendak melompati pagar kawat berduri. Tapi, aparat tak tinggal diam. Akhirnya, aksi dorong-mendorong antara polisi dan buruh sempat terjadi beberapa saat. Ketatnya penjagaan membuat buruh menyerah. Mereka kembali mundur dan meneruskan orasi.

Polda Metro Jaya juga menyiagakan mobil penyemprot air (water cannon) dan memasang pagar kawat berduri standar NATO. Penjagaan juga diperkuat di depan Istana Wakil Presiden dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan. Ratusan aparat brimob berjaga sejak pagi dengan tameng dan pentungan rotan, pagar kawat berduri, dan water cannon.

Di Stadion GBK, aksi dengan tajuk May Day Fiesta 2008 digelar Forum Aliansi Pekerja. Mereka terdiri atas Serikat Pekerja Nasional, FSP LEM-SPSI, dan Federasi Serikat Pekerja Metal. Tidak kurang dari 30 ribu buruh ikut aksi itu.

Dalam aksinya, mereka menyoroti reformasi ketenagakerjaan yang telah berjalan 10 tahun tapi belum mampu memberi perlindungan dan peningkatan kesejahteraan bagi pekerja dan buruh.

Tiga paket UU Ketenagakerjaan, yakni UU No 21/2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh, UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, dan UU No 2/2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, dianggap belum mampu memberi jawaban atas permasalahan buruh. “Justru sebaliknya, telah menyengsarakan kaum pekerja karena dihadapkan pada lemahnya pengawasan birokrasi di bidang ketenagakerjaan,” kata Ketua Umum DPP SPN Bambang Wirahyoso.

Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang berorasi di tengah massa buruh meminta semua pihak bekerja sesuai kewenangan. Eksekutif sebagai pengambil keputusan masalah buruh harus diawasi legislatif. Ketika masing-masing bekerja sesuai porsinya, kata Hidayat, diharapkan bisa menguatkan tuntutan agar semua bekerja sesuai kewenangan. “Mudah-mudahan apa yang disampaikan tadi semakin kuat didengarkan para pengambil keputusan sehingga buruh bisa mendapat perbaikan nasib, kepastian bekerja, dan tidak menjadi bulan-bulanan kepentingan ekonomi dari siapa pun,” harapnya.

Sementara itu, di Bundaran Hotel Indonesia, unjuk rasa dilakukan Relawan Pejuang Demokrasi, Komite Buruh Bersatu, Fron Pejuang Rakyat, dan BEM-UI. Di gedung MPR-DPR unjuk rasa digelar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. (noe/gen/fal/tof)

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s