Pak SBY, Mereka Merekam Ucapanmu…


INGGRIED DWI WEDHASWARY
Empat mahasiswa Trisakti yang tewas dalam tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Senin, 12 Mei 2008 | 11:28 WIB
JAKARTA,- Heratety Hidayat tampak tegar, saat bercerita tentang 10 tahun pasca tewasnya sang putra, Elang Mulia Lesmana, di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, 12 Mei 1998 lalu.

Ia mengaku sudah ikhlas dengan kepergian Elang, putra keduanya yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa jurusan Arsitektur angkatan 1996. Bayangan akan peristiwa yang memerihkan hatinya itu, ia kubur dalam-dalam.

Sepuluh tahun meninggalnya Elang pun tak ada selamatan apa-apa.”Kami sekeluarga tidak bikin acara apa-apa, takut down lagi. Sudah banyak yang mengenangnya, tapi kami selalu berkirim doa,” ujar Hera, saat ditemui usai mengikuti peringatan 10 tahun reformasi di Kampus Trisakti, Senin (12/5).

Lanjut Hera, ia tak berharap banyak hal dari pemerintah. Pengungkapan kasus itu dan adanya pihak yang bertanggung jawab atas kematian sang putra, itu yang diharapkannya.

“Saya berterima kasih dengan diberikannya Bintang Jasa dan Piagam Penghargaan. Tapi itu saja tidak cukup. Saya masih merekam jelas, apa yang dikatakan Pak SBY kepada kami (para orang tua korban). Kata beliau (Presiden SBY) saat itu, ‘saya tidak menjanjikan apa-apa, tapi akan saya usahakan dengan seadil dan sebijak-bijaknya’. Saya ingat betul semua ucapannya,” tutur Hera lagi.

Menurut dia, ucapan itu disampaikan SBY usai pemberian bintang jasa dan piagam penghargaan pada 18 Agustus 2005. Pernyataan SBY itu, ternyata tak hanya lekat di benak Hera. Orang tua Hery Hertanto (mahasiswa jurusan Teknik Mesin), Lasmiati juga masih mengingatnya.

“10 tahun sudah, kami hanya menunggu dan menunggu, karena pemerintah tidak menepati janjinya. Kami berharap Pak Presiden menepati janji yang pernah disampaikannya kepada kami para orang tua korban,” katanya.

Sementara itu, Karsiyah, ibunda Hendriawan Sie (mahasiswa Jurusan Manajemen) masih berlinang air mata saat ditanya tentang putra semata wayangnya. Kematian tragis sang putra, menjadi luka yang tak tersembuhkan baginya.

Demi berdekatan dengan kuburan Hendri, Karsiyah memilih menetap di Jakarta, meninggalkan kampung halamannya yang ada di Balikpapan.

“Pemerintah tidak pernah tahu apa yang saya rasakan. Kepergian putra tunggal saya, membuat saya gamang. Siapa yang akan mengurus saya dan suami saya saat kami tua nanti? Pemberian penghargaan tak akan menghapus duka kami, yang kehilangan anak. Sekarang kami berharap ada keadilan, siapa yang bertanggung jawab, harus diadili,” ungkap Karsiyah, dengan mata berkaca-kaca. Pak SBY, ucapan itu masih melekat di benak mereka….

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s