Tolak Kenaikan BBM: FPR Gelar Diskusi dan Aksi Piket

FPR | 15/05 | Front Perjuangan Rakyat (FPR) menggelar diskusi terbuka dan aksi piket sebagai pemanasan menolak kenaikan harga BBM. Diskusi tersebut diadakan di Gedung YTKI Jakarta dengan menghadirkan pembicara Wardah Hafidz, Koordinator UPC, Erpan Faryadi, Sekjen AGRA, dan Khamid Istakhori, Sekjen KASBI, dengan Moderator Andreas Iswinarto, Sekjen SHI.

Wardah Hafidz menjadi pembicara pertama. Dalam paparannya, Wardah mengemukakan bahwa pemerintah SBY-JK adalah rejim yang tidak mau susah dan malas berpikir. Mereka berupa membodohi rakyat dengan berbagai berita yang menyesatkan. Kemudian menggelontorkan BLT dengan politik “KTP” yang pada gilirannya hanyalah akan memecah-belah rakyat.


“Kenaikan harga BBM adalah ancaman sekaligus peluang. Ancaman bagi kehidupan kita, namun juga menjadi kesempatan bagi gerakan rakyat di Indonesia untuk bersatu dan melakukan perlawanan bersama,” jelas Wardah.

Sementara Erpan Faryadi memandang bahwa krisis harga minyak dunia ini disebabkan oleh adanya monopoli penguasaan sumber-sumber energy, yang notabene merupakan salah satu sumber agraria, oleh segelintir kapitalis-monopoli raksasa yang rakus, dan didukung oleh rejim boneka yang berwatak tuan-tanah dan pedagang, SBY-JK. Merekalah yang memainkan berbagai tindakan spekulasi dan permainan harga dalam skala dunia.

“Monopoli ini harus dilawan dengan memaksakan demokratisasi penguasaan sumber-sumber agraria dan asset-aset produktif lainnya melalui reforma agraria dan mendorong produktivitas nasional guna memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui nasionalisasi industry,” tegas Erpan.

Khamid Istakhori menjelaskan krisis harga minya diakibatkan oleh dominasi system kapitalisme yang mendasarkan kekuasaannya pada penindasan dan pemerasan terhadap kaum pekerja untuk pemodal besar yang jumlahnya segelintir. Sistem inilah yang sesungguhnya menjadi biang-keladi dari berbagai krisis harga minyak. Pada saat ini, kapitalisme global tidak hanya memeras, tetapi sudah sampai pada taraf merampok.

“Kita telah ditantang untuk membuat kembali barisan perlawanan yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan Mayday yang lalu. Persatuan yang disandarkan pada kekuatan rakyatlah jaminan utama perubahan sosial di Indonesia,” tegas Istakhori.

Kesaksian

Diskusi FPR kali ini dibuka dengan kesaksian dari masyarakat, khususnya buruh, kaum perempuan, dan kalangan miskin perkotaan. Salah seorang peserta diskusi yang turut memberikan kesaksian pada kesempatan itu adalah Yati (35) dari Penjaringan, Jakarta Utara. Menurutnya, isu kenaikan harga BBM telah menyebabkan usaha jualan bubur suaminya harus bangkrut.

Yati mengeluh, gara-gara isu kenaikan harga BBM, harga berbagai bahan baku bubur untuk usaha suaminya ikut-ikutan naik. Padahal, karena mayoritas pembelinya adalah kaum miskin, suaminya tidak bisa menaikkan harga jual bubur. Karena tidak kuat menanggung kenaikkan harga, usaha suaminya pun bangkrut. “SBY memang tuli dan buta, dia tidak melihat bahwa kaum miskin sesungguhnya yang paling menderita akibat kenaikan harga BBM!” tandas Yati yang mengaku hanya sekolah sampai kelas III SD.

Kesaksian lain juga diutarakan Eti, seorang perempuan lainnya. Menurutnya, BLT yang dijanjikan pemerintah sebenarnya hanya permainan saja. Dalam satu RT, meski orang miskinnya banyak, tapi yang kebagian hanya beberapa. Orang-orang pada cemburu dan kadang menuduh Pak RT melakukan kecurangan. “Kasian RT di kampung saya, kalaupun dia dapat, ga seberapa dibandingkan resiko dikeroyok orang sekampung,” jelas Eti. “Karenanya, meski hidup susah, kita tetap menolak BLT, karena BLT tidak ada gunanya.”

Aksi Piket di Bundaran HI

Diskusi kali itu ditutup dengan aksi piket yang dilaksanakan oleh sekitar 50 massa Front Perjuangan Rakyat di Bundaran HI. Aksi tersebut dimaksudkan sebagai pemanasan menuju aksi besar pada 21 Mei 2008.


“Kita akan ungkapkan kemarahan kita bersama kepada rejim SBY-JK secara bersama-sama pada tanggal 21 Mei 2008 nanti. Karenanya, FPR mengundang semua kalangan untuk turut serta melakukan aksi pada tanggal tersebut,” tegas Rudi HB Daman, Koordinator FPR.***

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s