Catatan Kelam BLT 2005

Selasa, 20 Mei 2008 | 13:53 WIB
PENYALURAN dana bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, atau yang kedua kali di awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, berlangsung tidak lancar. Banyak kericuhan yang terjadi. Bahkan hingga jatuh korban jiwa akibat kekurangbecusan mekanisme pencairan dana.

Berdasarkan data Persda Network, setidaknya dua aparatur negara di tingkat paling bawah, yakni Ketua RT menjadi korban akibat BLT. Ada yang dibunuh warganya yang marah, ada pula bunuh diri karena stres tak kuat menahan cercaan warga.

Saman (52), Ketua Rukun Tetangga di Dusun Benit, Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, tewas akibat ditikam warganya, Hendri alias Bujang (24).

Nur Hasan (50), Ketua RT 02/08 Kelurahan Pancoran Mas, Depok, tewas menyedihkan akibat meminum cairan racun serangga. Hasan menempuh jalan pintas dengan menenggak racun serangga. Warga yang tidak mendapat kartu mengira Hasan yang memainkan. Padahal, Hasan sudah menjelaskan bahwa kewenangannya hanya membagi.

Di pihak penerima, kakek-nenek tua renta, harus relaberjuang sekuat tenaga mengimbangi desakan orang-orangmiskin lainnya untuk mendapatkan jatah yang jumlahnya hanya Rp 100.000 hingga Rp 300.000.  (Persda Network/domuara ambarita)

 

 

Inilah Para Korban BLT 2005

* Muara Bungo, Jambi
Saman (52), Ketua Rukun Tetangga di Dusun Benit, Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, tewas akibat ditikam warganya, Hendri alias Bujang (24), Jumat (21/10/2005) .Peristiwa pembunuhan tersebut terkait kartu kompensasi BBM (KKB) dan pembagian dana BLT untuk keluarga miskin.

* Depok, Jabar
Gara-gara stres didesak warganya yang tidak mendapatkan BLT, Nur Hasan (50), Ketua RT 02/08 Kelurahan Pancoran Mas, Depok, tewas menyedihkan akibat meminum cairan racun serangga, 21 Oktober 2005.

Hasan menempuh jalan pintas dengan menenggak racun serangga. Warga yang tidak mendapat kartu mengira Hasan yang memainkan. Padahal, Hasan sudah menjelaskan bahwa kewenangannya hanya membagi.

* Karanganyar, Jateng

Seorang nenek, Kasipah (80), tewas karena keletihan antre di kantor Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Senin (17/10/2005) . Ia ini meninggal dalam perjalana  ke puskesmas setelah ambruk saat berdesak-desakan bersama ratusan warga. Sebelum meninggal korban sempat pingsan beberapa lama di tengah kerumunan warga.

* Demak, Jateng
Wadiman (70), warga Dukuh Kracek, Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Demak, Jawa Tengah, yang antre sejak pagi, tiba-tiba ambruk di depan Kantor PT Pos Indonesia Dempet, Jumat (14/10/2005. Warga membawa korban ke puskesmas terdekat tapi nyawanya tidak tertolong.

* Palembang, Sumsel
Ratusan warga antre untuk mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sejak pagi hari, padahal BLT baru mulai dibagikan pukul 13.00 WIB, di Kantor Pos Sako dan Kantor Pos Besar Jalan Merdeka, Palembang, Sumsel, Selasa (3/1/2006). Tiga orang pingsan.

* Banjarnerga, Jateng
Tarsono (84), warga Banjarnegera, Jawa Tengah, meninggal setelah pulang mencairkan dana BBM, Sabtu (15/10/2005)

* Banyuwangi, Jatim
Petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Beni Kushariawan, Senin (17/10/2005) , nyaris menjadi korban amuk massa. Massa marah karena dianggap berbelit-belit ketika memberikan penjelasan kepada warga miskin yang tidak mendapat bantuan langsung tunai (BLT).

* Banyuwangi, Jatim
Nenek Warinem (84), warga Genteng Wetan, Banyuwangi, Jawa Timur, meninggal saat antre bantuan langsung tunai (BLT), Jumat (14/10/2005) . Warinem bersama 1.400 warga antre dana BBM di kantor camat Genteng, Banyuwangi. Tiba-tiba, nenek itu pusing dan meminta Jami’iyah, tetangga yang mengantar, membawanya keluar antrean. Baru beberapa menit istirahat, ia pingsan dan meninggal.

*Yogyakarta
Daliyem Kirno (75), seorang janda miskin di Bangunrejo, Rt53/Rw12 Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Karena tidak mendapat BLT, Daliyem menghakiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Sebelum meninggal korban sempat mengeluh dan menceritakan bahwa ia nekat terjun ke sungai karena merasa mendapat perlakuan tidak adil karena tidak mendapat dana KKB BLT. Sebelumnya, telah jatuh beberapa korban dengan penyebab karena tak kuat berdesak-desakan di tengah ratusan bahkan ribuan pengantre.

* Bojonegoro, Jatim
Saining (66), warga Bojonegoro Jawa Timur yang sampai koma setelah mengantre di kantor kecamatan. (berbagai sumber/domuara ambarita)

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Catatan Kelam BLT 2005

  1. lia says:

    Thanks 4 your information. Saya berharap pemerintah mau membaca berita ini dan kembali berkaca tentang kebijakannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s