Ketenagakerjaan: Sektor Informal Rentan

Senin, 19 Mei 2008 | 00:43 WIB

Jakarta, Kompas – Pemerintah seharusnya mencegah peralihan pekerja formal ke sektor informal dengan lebih serius membangun industri unggulan nasional.

Kendati demikian, secara tidak langsung, sektor informal selama ini menjadi katup penyelamat bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan di sektor formal.

”Sektor informal sebenarnya sangat rentan karena tidak tersedia dukungan memadai jika terjadi krisis. Pemerintah harus mengamankan sektor unggulan supaya bisa mendukung pertumbuhan sektor informal. Syukur- syukur bisa membantu pengusaha informal naik kelas menjadi formal seperti di sektor komponen,” kata pengamat ekonomi, Faisal Basri, yang dihubungi di Yogyakarta, Sabtu (17/5).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis di Jakarta, Kamis (15/5), hanya 28,52 juta orang dari 102,05 juta pekerja yang bekerja di sektor formal, terutama industri. Selebihnya berada di sektor informal dengan subsektor pertanian yang paling banyak menyerap, yaitu 42,69 juta pekerja.

Pertanian merupakan andalan bagi angkatan kerja di pedesaan, sedangkan di perkotaan didominasi subsektor perdagangan. Faisal mengatakan, derasnya arus peralihan pekerja formal ke informal secara kasatmata terlihat dari banyaknya usaha kaki lima di perkotaan.

Upah riil turun

Di Jakarta, Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak bakal menurunkan upah riil pekerja atau buruh sektor formal. Kondisi ini akan menyebabkan sebagian besar dari 28,52 juta pekerja formal tersebut mengurangi volume konsumsinya.

Dampaknya, omzet sektor informal yang selama ini bergerak karena ada permintaan dari pekerja formal terancam anjlok. ”Kondisi ini bisa berujung pada kebangkrutan sektor informal karena biasanya daya beli yang turun akibat kenaikan harga BBM baru pulih paling cepat enam bulan kemudian,” kata Yanuar.

Data BPS menunjukkan, upah riil buruh industri pada triwulan III-2007 turun 4,60 persen ketimbang triwulan II-2007. Saat pekerja formal mengurangi konsumsi, tingkat inflasi akan berkurang. Namun, kondisi ini akan menyebabkan pergerakan ekonomi riil melambat. (ham)

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s