Kronologis Kericuhan versi Unas

Sabtu, 24 Mei 2008 | 12:09 WIB

JAKARTA, SABTU – Humas Universitas Nasional (Unas) Abdul Malik membeberkan kronologis kericuhan antara mahasiswa dan pihak kepolisian di kampus yang terletak di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Sabtu (24/5) dini hari tadi.

Versi Unas, kericuhan terjadi saat secara tiba-tiba pihak kepolisian melakukan penyerangan dengan mendobrak gerbang kampus sekitar pukul 05.00 dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas terhadap mahasiswa dan satpam. “Itu yang ingin kami ketahui penyebabnya. Karena pagi itu sebenarnya situasi sudah kondusif, mahasiswa juga sudah cooling down. Tapi tiba-tiba kok polisi masuk ke kampus. Kalau polisi mengatakan ada pelemparan batu, itu versi polisi,” ujar Malik kepada wartawan siang ini.

Malik memaparkan, awalnya mahasiswa melakukan aksi dengan menyampaikan orasinya sekitar pukul 21.00, Jumat (23/5) malam. Aksi itu dilakukan secara spontan, merespon kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah. Polisi mulai melakukan penjagaan di depan kampus sekitar pukul 21.30. Tak lama kemudian, ada provokasi yang diduga dilakukan kedua belah pihak yang berujung bentrokan.

“Sekitar jam 12 malam, sebenarnya kondisi sudah pulih dan kerumunan mahasiswa sudah berkurang, mungkin sudah pada capek sehingga mereka berangsur kembali ke kampus. Keadaan memanas lagi jam 5 pagi, dengan jumlah aparat kepolisian sangat banyak. Pukul 05.15, polisi melakukan provokasi dengan mengeluarkan makian pada satpam yang berjaga, pintu gerbang kampus didobrak. Situasi kacau sekali,” kata Malik.

Akibat masuknya polisi secara membabibuta ke dalam kampus, Malik menyebutkan sejumlah fasilitas kampus mengalami kerusakan. Diantaranya, fasilitas ATM, gedung rektorat, laboratorium pariwisata, 3 blok gedung perkuliahan, gedung serbaguna dan koperasi mahasiswa.

“Bahkan, polisi berseragam itu merusak koperasi mahasiswa dan menjarah kas koperasi serta handphone yang ada di koperasi. Properti kampus diobrak abrik. Sekitar 20 motor rusak, dibakar dan 3 mobil dirusak,” lanjut Malik.

Masih cerita Malik, selanjutnya polisi melakukan penyisiran terhadap mahasiswa di setiap sudut kampus. Mahasiswa yang terlihat di dalam kampus seluruhnya diangkut, meskipun bukan merupakan peserta aksi. “Satpam kami, mahasiswa dianiaya, dipukulin. Kami menyesalnkan kejadian ini. Sepanjang sejarah, ini musibah kekacauan paling parah yang menimpa Unas,” katanya.

Atas peristiwa itu, Malik kembali menegaskn bahwa Unas akan meminta penjelasan dan pertanggungjawaban pihak kepolisian. “Harus ada penjelasan, mengapa aparat sebrutal itu. Kapolri, Presiden juga harus bertanggung jawab. Ini ekses dari kebijakan yang direspon secara kritis oleh mahasiswa,” kata Malik.

Unas juga akan menindaklanjuti dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan pihak kepolisian terhadap para mahasiswanya.

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s