Menolak Kenaikan BBM: Rakyat Kembali Dipukul!

LAMPUNG, FPR (27/5). Kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kampus Universitas Lampung dijadikan momentum oleh Front Perjuangan Rakyat (FPR) Lampung untuk menuntut pembatalan kenaikan BBM. Seperti di tempat-tempat lain, aksi kali inipun dipukul aparat. Seorang aktivis FPR, Sutomo, dikabarkan menderita luka serius akibat pukulan aparat.

Aksi menolak kenaikan harga BBM yang diikuti sekitar 100 massa FPR di Kampus Unila ini dimulai pukul 10.00 WIB. Aksi di pusatkan di gerbang kampus Unila yang rencananya akan dilalui rombongan Jusuf Kalla yang hendak menghadiri pembukaan Muktamar IMM di kampus Universitas Lampung. Massa aksi sempat menghadang rombongan Jusuf Kalla sebelum akhirnya dibubarkan paksa oleh aparat keamanan.

Nico Fernando, pimpinan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Lampung, salah satu organisasi yang tergabung dalam aksi tersebut hendak ditangkap aparat keamanan. Namun niat aparat keamanan itu mampu digagalkan oleh massa aksi. Organisasi-organisasi yang tergabung FPR Lampung dalam aksi tersebut adalah PMKRI, GMKI, PMII, FMN, AGRA, dan Seruni.

“Kami marah kepada SBY-JK karena semena-mena menaikkan harga BBM pada saat mayoritas rakyat Indonesia masih hidup dalam kesengsaraan,” tegas Nico, juru bicara FPR Lampung.

Wonosobo dan Lamongan

Aksi menuntut pembatalan kenaikan BBM juga dilakukan FPR di Wonosobo. Aksi tersebut mampu menghimpun lebih dari 400 massa yang berasal dari organisasi-organisasi massa di Wonosobo. Dalam aksi tersebut, massa yang mayoritas berasal dari kaum tani miskin dan buruh tani, menyampaikan berbagai dampak kenaikan BBM terhadap nasib petani.

“BBM naik! Ongkos naik! Pupuk naik! Semuanya naik!” teriak salah seorang petani yang ikut dalam aksi tersebut.

Di samping kaum tani yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Reforma Agraria, aksi FPR di Wonosobo diikuti oleh massa dari kalangan pengamen yang tergabung dalam Serikat Pengamen Wonosobo, Asosiasi Angkutan Wonosobo, FMN, PMII, FPPI, Persatuan pemuda Desa (Pedas), dan Serikat Perempuan Indonesia cabang Wonosobo.

Sementara itu di Lamongan, aksi menuntut pembatalan kenaikan BBM dilakukan FPR dengan melibatkan elemen mahasiswa dan nelayan. Aksi tersebut diikuti kurang lebih 900 orang. Massa yang mengikuti aksi tersebut menyoroti dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat pesisir dan nelayan miskin.

“Gara-gara BBM naik, kami tidak bisa melaut!” teriak salah seorang nelayan yang mengaku sudah tidak melaut sejak diumumkannya kenaikan harga BBM.

Munculnya suara-suara penolakan dari kalangan rakyat, khususnya kaum tani dan nelayan miskin menunjukkan bahwa kebijakan SBY-JK menaikkan harga BBM telah memperburuk krisis dan menyengsarakan rakyat.

“Aksi ini akan terus berlanjut, seiring dengan memburuknya krisis yang terjadi di kalangan rakyat,” tegas Rudi HB Daman, Koordinator FPR.***

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s