Demo Sambut Presiden – Dua Mahasiswa Ditahan Aparat

Senin, 30 Juni 2008 | 02:08 WIB Jambi,

Kompas – Sekitar 100 mahasiswa Dan aktivis lembaga swadaya masyarakat berunjuk rasa menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka Hari Keluarga Nasional di Provinsi Jambi. Dalam aksi tersebut sempat terjadi bentrok antara mahasiswa Dan aparat sehingga dua orang terpaksa ditahan.

Sejak pukul 07.00, Minggu (29/6), massa beraksi di depan Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha, Telanaipura, Kota Jambi. Para pendemo itu berasal dari gabungan Dan sejumlah LSM serta Badan Eksekutif Mahasiswa se-Provinsi Jambi, antara lain, Universitas Jambi, Universitas Batanghari, IAIN Sultan Taha Syaifuddin, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Setara, Lembaga Bantuan Hukum Lingkungan Jambi, Dan Mapala Gitasada Jambi.

Dalam aksinya, massa menuntut pemerintah membatalkan kenaikan harga bahan bakar minyak Dan menurunkan harga-harga bahan kebutuhan pokok. Selain itu, mereka mengecam pelaksanaan Hari Keluarga Nasional (Harganas), yang berlangsung pada Minggu kemarin di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagai bentuk pemborosan uang negara. Acara ini dihadiri Presiden Yudhoyono Dan sejumlah menteri.

Sempat terjadi bentrok antara massa Dan aparat kepolisian karena para pendemo memaksa untuk berjalan memasuki kawasan jalan protokol, yang menjadi jalur yang dilalui rombongan Presiden dari Bandara Sultan Thaha Jambi menuju lokasi acara Harganas XV Dan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) V. Akibatnya, terjadi saling dorong antara pendemo Dan aparat. Aparat keamanan yang jumlahnya dua kali lipat dari para pendemo, berhasil menggagalkan aksi tersebut.

Tahan pendemo

Walau kericuhan dapat diredam, aparat keamanan sempat menahan dua pendemo, yakni Donas dari IAIN Jambi Dan Sodri, mahasiswa Universitas Batanghari, Jambi, karena keduanya mencoba melarikan diri ketika terjadi aksi saling dorong.

Kedua mahasiswa tersebut akhirnya dilepaskan atas jaminan Kepala Polisi Kota Besar Jambi Komisaris Besar Eko Danianto. Menurut Eko, meski para pendemo melanggar aturan Dan tidak memiliki izin berunjuk rasa, pihaknya tidak akan menahan Dan menjaga keselamatan kedua mahasiswa tersebut, asalkan para pendemo tidak melakukan tindakan anarkis.

”Pokoknya jangan sampai bertindak anarkis yang mengganggu keamanan,” tutur Eko.

Dalam orasinya, para pendemo menuding kegiatan seremonial Presiden Yudhoyono di Jambi ini merupakan tindakan pemborosan Dan hanya menghambur-hamburka n uang rakyat.

Aksi unjuk rasa itu berlanjut pada sore Hari ketika Presiden kembali dari lokasi Harganas menuju Jambi. Aksi tersebut kembali mendapat pengawalan sangat ketat dari polisi karena Presiden akan melintasi jalan, tempat aksi unjuk rasa berlangsung.

Menurut koordinasi aksi unjuk rasa tersebut, Nurbaya, mereka akan terus bertahan untuk tetap menyerukan tuntutan penolakan kenaikan harga BBM kepada Presiden. (ITA)

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s