Kenaikan Harga Minyak dan Perubahan Iklim Jadi Isu Utama

TOKYO (Ant/Lampost): Delapan negara industri maju yang tergabung dalam G-8 memulai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-34, mengangkat isu utama perubahan iklim global, keamanan pangan, melonjaknya harga minyak dunia, dan pembangunan di Afrika, Senin (7-7).

Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari (7–9 Juli) di kawasan resort Danau Toya (Toyako), Hokkaido, juga melibatkan sejumlah negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, Korsel, dan Indonesia.

Negara-negara yang tergabung dalam G-8 adalah AS, Inggris, Rusia, Prancis, Italia, Kanada, Jerman, dan Jepang.

KTT G8 juga diwarnai sejumlah pertemuan bilateral lainnya. Indonesia merencanakan serangkaian pertemuan mulai dari Sekjen PBB, dan pemimpin negara peserta lainnya seperti dengan India, Korsel, dan Meksiko.

Selain sejumlah negara, beberapa organisasi internasional, misalnya, Bank Dunia, dan juga organisasi multilateral seperti Uni Eropa juga hadir memberikan masukan. Negara-negara Afrika yang diwakili oleh Aljazair, Etiopia, Ghana, Afrika Selatan, Tanzania, Senegal, dan Nigeria bahkan mengadakan pertemuan khusus dengan Bank Dunia dan Pemerintah Jepang.

KTT di Hokkaido berlangsung dengan suasana penjagaan keamanan ekstraketat yang melibatkan sedikitnya 20 ribu petugas kepolisian. Jumlah yang sama juga diterjunkan di Tokyo.

Demo di Indonesia

Sementara itu, Front Perjuangan Rakyat (FPR) kemarin menggelar unjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Mereka menentang pelaksanaan KTT ke-34 G8 di Hokaido, Jepang, dan mengecam kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan tersebut.

“Negara-negara G-8 ini menyebabkan kenaikan harga BBM di Indonesia. Kami mengecam kehadiran Presiden SBY di pertemuan itu, harusnya tidak usah datang,” kata juru bicara FPR Rudi H.B. Daman dalam orasinya di depan Kedubes Jepang.

Di dalam aksi siang ini, pengunjuk rasa yang jumlahnya 28 orang itu mengenakan topi karton bergambar bendera negara-negara maju anggota G8. Massa juga membawa berbagai poster berisi kecaman terhadap keberadaan G-8 yang dinilai tidak membawa manfaat bagi dunia. Seperti “No more G8,” dan “No more WTO”.

Koalisi Antiutang (KAU) juga melakukan unjuk rasa dengan tuntutan negara-negara maju menghapuskan utang negara dunia ketiga. KAU menilai berbagai krisis di dunia ketiga terjadi akibat pola pembangunan neoliberal yang didesak oleh negara-negara maju. Negara G-8 juga dituduh sebagai penyumbang terbesar perusakan lingkungan lewat emisi karbonnya. n U-3

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s