Perbesar Inisiatif dengan Memperhebat Perjuangan Massa!

Batalkan Kenaikan Harga BBM! Turunkan Harga Sembako!
Naikkan Upah! Jalankan Land Reform Sejati!

BROSUR KAMPANYE FRONT PERJUANGAN RAKYAT — 8 JULI 2008

Untuk menyimak seluruh materi dalam brosur terbaru FPR silakan klik brosur-fpr-10-juli-2008

Bangkitnya gerakan massa pada peringatan hari buruh se-dunia 2008 yang lalu telah terbukti dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dalam penilaian yang telah kita lakukan terhadap aksi massa hari buruh internasional secara nasional, lebih dari sepuluh ribu massa rakyat berjuang bersama dalam garis persatuan buruh dan tani melawan rejim anti rakyat SBY-JK. Capaian ini ke depan harus ditingkatkan dengan merekrut atau mengorganisasikan massa kedalam tubuh organisasi sehingga secara kuantitas organisasi juga mendapatkan keuntungan dari kampanye massa yang telah kita lakukan.

Pasca mayday, garis kampanye kita kemudian adalah mengambil bagian dalam kampanye penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Namun yang patut menjadi catatan kemudian, aksi-aksi ini kemudian belum sanggup menggelembung dan membesar. Justru sebaliknya, partisipasi massa dari hari ke hari semakin menciut dan terus menurun. Tentu saja hal ini tidak bias kita lepaskan dari propaganda internal kita terhadap anggota dan massa yang masih kurang optimal berjalan, sehingga keterlibatan massa untuk ambil bagian menentang kebijakan SBY-JK belum sesuai dengan harapan yang kita inginkan.

Aksi-aksi yang kita galang disisi lain juga belum sanggup mengisolasi aksi-aksi “brutal spontan” yang dilakukan gerakan mahasiswa di berbagai kota yang sarat dengan pengaruh politik kaum oportunis dan reformis. Aksi-aksi “brutal spontan” ini kemudian menciptakan preseden buruk bagi massa secara luas tentang aksi massa, terutama bagi gerakan mahasiswa. Akan tetapi kita kemudian tidak dapat sekonyong-konyong menyalahkan apa yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa dalam aksi-aksi brutal tersebut, karena apa yang mereka lakukan sebetulnya adalah sebuah ekspresi perjuangan mahasiswa yang kemudian harus berhadapan dengan alat penindas reaksioner yang dimiliki oleh negara sehingga terjadi berbagai macam bentuk kekerasan.

Namun kita kemudian juga tidak boleh tinggal diam atas aksi-aksi massa demikian yang berlangsung secara oportunis dan membelakangi kesadaran massa. Kita tidak menginginkan timbulnya antipati massa terhadap aksi massa dan mengkritik keras gerakan mahasiswa yang ingin menonjolkan diri dan seolah-olah merasa paling berani sehingga tidak mempercayai persatuan buruh dan tani sebagai kekuatan pokok dalam setiap perjuangan massa.

Aksi-aksi yang kita galang hendaknya tetap bersandar pada prinsip legal demokratis dan defensive aktif. Hal ini penting, mengingat dalam situasi krisis yang demikian, negara melalui alat reaksionernya tidak akan segan memukul gerakan massa yang sedang bangkit, sehingga mempersiapkan diri sebaik mungkin baik barisan maupun taktikal mutlak menjadi perhatian kita. Disisi lain kita mesti memahami bahwa aksi massa adalah aksi yang melibatkan massa secara luas, bagaimana sanggup melibatkan massa dengan memimpin kesadaran dan kehendak mereka bahkan sampai terlibat dalam aksi-aksi yang beresiko adalah tugas pokok sekaligus hal yang kita harapkan.

Meskipun gerakan massa menentang kenaikan harga BBM sedang menurun saat ini, kita tetap tidak boleh “patah-arang” dan melongggarkan perjuangan kita serta membiarkan SBY-JK dengan pongahnya mengatakan “Aksi massa pasti akan berhenti dengan sendirinya”. Hal demikian terjadi karena konsolidasi kita untuk terus melancarkan perjuangan sedang mengalami penurunan dan masih terbatas dijalankan. Gerakan massa harus segera dikembalikan ke jalurnya untuk terus melakukan pertentangan terhadap SBY-JK dengan kekuatan yang terus membesar.

Untuk melaksanakan hal itu, gerakan menuntut pembatalan kenaikan harga BBM dan menuntut diturunkannya harga-harga kebutuhan pokok perlu melakukan beberapa hal dalam rangka memperuncing pertentangan antara rakyat dengan rejim anti-rakyat SBY-JK. Upaya ini perlu dilakukan dengan terus menggelorakan aksi-aksi rakyat dari seluruh klas, sektor, dan golongan untuk menentang kebijakan SBY-JK; menuntut pembatalan kenaikan harga BBM dan menuntut diturunkannya harga-harga kebutuhan pokok.

Gerakan menuntut pembatalan kenaikan harga BBM harus mampu menyulut perlawanan rakyat, baik secara sektoral maupun multisektoral. Gerakan-gerakan sektoral, seperti gerakan buruh, tani, nelayan, miskin kota, perempuan, pemuda-pelajar dan mahasiswa, dan sektor-sektor lain memiliki peran dan untuk menarik simpati dari berbagai kalangan dari berbagai tingkat kesadaran. Upaya ini berfungsi untuk melakukan pembesaran kuantitatif dalam gerakan menentang kebijakan rejim anti-rakyat SBY-JK. Sementara itu, gerakan multisektoral diperlukan untuk memperkuat bobot politik dalam gerakan menentang kebijakan rejim anti-rakyat SBY-JK. Kombinasi gerakan sektoral dan multisektoral inilah yang akan memperbesar dan mempertinggi perlawanan rakyat terhadap rejim Boneka imperialis SBY-JK.

Di tengah keadaan ketika kesadaran politik rakyat masih belum merata, peranan gerakan pemuda-mahasiswa untuk terus menggelorakan aksi-aksi protes rakyat menentang kenaikan harga BBM dan menuntut diturunkannya harga-harga kebutuhan pokok masih tetap signifikan. Namun gerakan di kalangan ini perlu membenahi diri, khususnya dalam aspek politik dan organisasi. Pembenahan pada aspek politik terletak pada fokus propaganda yang dilakukan. Dalam arti, gerakan pemuda dan mahasiswa perlu mendewasakan diri untuk tidak terjebak pada cara-cara pikir yang “herois” dan slogan-slogan yang “altruis”.

Tanpa bermaksud mengecilkan gerakan mahasiswa, namun kita bisa dengan jelas melihat bahwa upaya SBY-JK memukul aksi-aksi protes atas kenaikan harga BBM, secara sadar maupun tidak, telah diuntungkan oleh pola-pola aksi yang masih cenderung spontanitas, berbasiskan pada heroisme dan primordialisme sektor mahasiswa. Celakanya, sebagian dari gerakan ini tidak secara konkret terhubung dengan kegelisahan massa rakyat yang ditindas oleh kenaikan harga BBM.

Tekanan politik, baik berupa tindakan kekerasan dan propaganda-propaganda sesat yang dikembangkan rejim SBY-JK terhadap gerakan mahasiswa justru menyebabkan gerakan mahasiswa terpojok dan terkucil dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Reaksi negatif terhadap gerakan mahasiswa tidak hanya berasal dari rejim SBY-JK dan aparatnya, melainkan juga dari pihak-pihak lain, seperti rektorat dan masyarakat awam, yang seharusnya mampu digalang untuk bersama-sama mengampanyekan penolakan kenaikan BBM.

Sebagai gerakan yang dihuni kalangan muda dengan kemampuan mobilitas yang cukup tinggi, harapan rakyat terhadap gerakan mahasiswa sesungguhnya masih belum sirna. Rakyat masih membutuhkan kampus sebagai panggung politik untuk menyuarakan tuntutan-tuntutan berikut kegelisahan-kegelisahannya. Akan tetapi, harapan-harapan ini akan lenyap bila gerakan mahasiswa tidak sanggup keluar dari sekat-sekat politik yang mengucilkannya. Harapan-harapan ini juga akan sirna bila gerakan mahasiswa tidak sanggup menata aksi-aksinya, melepaskan spontanitas dan primordialisme, dan konsisten menuntut pembatalan kenaikan harga BBM tanpa membuka ruang sedikit pun pada rejim untuk membelokkan aksi-aksi mahasiswa. Singkatnya, tantangan utama gerakan mahasiswa saat ini adalah menghadirkan kecerdasan politik dan intelektualitasnya dan keluar dari jebakan-jebakan politik yang ditaburkan rejim pada aksi-aksi mahasiswa serta melebur dengan gerakan rakyat untuk menyuarakan tuntutan yang sama; menuntut pembatalan kenaikan harga BBM.

Kita perlu menyadari bahwa kampanye menolak kenaikan harga BBM masih belum merata ke semua kalangan masyarakat. Hal ini tercermin dari konsentrasi gerakan penolakan kenaikan BBM yang cenderung menjadi gerakan massa perkotaan dengan tumpuan kekuatan utama, yakni kalangan pemuda-mahasiswa. Meskipun menyebar di berbagai tempat di Indonesia dengan keterlibatan elemen yang mulai meluas; buruh, tani, nelayan, Perempuan, dan lain-lain; akan tetapi gerakan menolak kenaikan harga BBM belum bisa dikatakan sebagai gerakan yang massif. Kelemahan inilah yang membuka ruang bagi rejim SBY-Kalla untuk memaksimalkan taktik BLT, bantuan mahasiswa, dan lain-lain untuk memecah-belah rakyat. Kelemahan ini perlu segera ditutup dengan mengobarkan kampanye-kampanye penolakan kenaikan harga BBM pada tingkat paling rendah.

Kita juga perlu menyadari bahwa kelemahan-kelemahan ini sesungguhnya menguntungkan SBY-JK. Ruang maneuver politik untuk mematahkan gerakan protes kenaikan harga BBM terbuka sangat luas. Dengan sokongan dana dan aparat kekerasan dan media, rejim SBY-JK sesungguhnya tidak hanya memiliki kekuatan untuk memberangus aksi dengan tindakan kekerasan, melainkan juga mengucilkan para pelaku gerakan dengan isu-isu yang tidak relevan dengan tuntutan. Karenanya, gerakan menolak atau menuntut pembatalan kenaikan harga BBM dan penurunan harga-harga sembilan bahan pokok semestinya disandarkan pada kepentingan pokok massa rakyat, khususnya buruh dan kaum tani, serta aspirasi utama dari rakyat miskin dan kaum marjinal baik di perkotaan dan maupun pedesaan.

Gerakan menuntut pembatalan kenaikan harga BBM harus mampu keluar dari sekat-sekat yang memisahkan kekuatan-kekuatan rakyat. Selubung-selubung primordialisme, sektarianisme, dan heroisme semu, dan berbagai pengotak-kotakan gerakan yang telah secara sadar maupun tidak disuburkan melalui aksi-aksi penolakan di masa lalu harus dibongkar. Kampanye-kampanye dengan menghubungkan diri secara langsung dengan kegelisahan dan protes-protes massa rakyat buruh, tani, miskin kota, perempuan, pemuda, pelajar dan mahasiswa perlu di tingkatkan di berbagai tempat pada berbagai tingkat. Seluruh rakyat harus mampu diajak bicara dan dibangkitkan kesadarannya tentang ancaman-ancaman akibat kenaikan harga BBM bagi hidup dan penghidupannya.

Gerakan rakyat menolak kenaikan harga BBM adalah gerakan seluruh klas, golongan, dan sektor dalam masyarakat yang menentang kenaikan harga BBM. Gerakan ini harus mampu mempersatukan elemen-elemen paling maju dan paling aktif dari massa, memajukan atau mempertinggi kesadaran politik dari elemen yang sedang atau menengah, serta mampu menarik simpati dari elemen-elemen yang terbelakang atau massa umum rakyat yang masih belum tersentuh propaganda yang tepat untuk berlawan pada kebijakan-kebijakan yang menindas kepentingannya. Untuk melakukan hal itu, gerakan rakyat menolak kenaikan harga BBM harus mampu mengucilkan elemen-elemen reformis dan oportunis yang bergentayangan dibalik aksi-aksi rakyat menentang kenaikan harga BBM sehingga membuka ruang politik yang lebih luas bagi massa yang sebelumnya berada dibawah pengaruh elemen-elemen itu untuk tampil ke permukaan dan mengemukakan pandangan dan pendirian politiknya yang bebas dari reformisme dan oportunisme.

Oleh karenanya, gerakan tersebut haruslah dipandu dalam bangunan organisasi front rakyat yang tepat, yang bersandarkan pada kekuatan buruh dan tani, serta secara luwes bertalian erat dengan kaum miskin dan marjinal serta berbagai kalangan yang paling terkena akibat terburuk dari kenaikan BBM di perkotaan maupun pedesaan. Front harus menjadi panggung politik bagi rakyat untuk memaksa rejim SBY-JK mendengarkan secara langsung suara-suara dan tuntutan-tuntutan kaum buruh, tani, nelayan, buruh-buruh migran, sopir-sopir angkutan umum, perempuan, pemuda, pelajar dan mahasiswa serta kalangan-kalangan lain yang terkena dampak terburuk akibat kenaikan harga BBM.

Melalui front yang bersandarkan pada aliansi dasar kaum buruh dan petani, tuntutan-tuntutan pembatalan kenaikan harga BBM harus mampu dipadukan dengan tuntutan-tuntutan rakyat, seperti; tuntutan kenaikan upah bagi buruh, dijalankannya land-reform sejati dan perlindungan pasar pertanian bagi kaum tani, tuntutan subsidi dan jaminan kelangsungan produksi bagi nelayan dan pekerja angkutan, tuntutan-tuntutan kaum miskin kota tentang hak untuk mendapatkan perlindungan hidup dan kerja yang layak, tuntutan kaum perempuan untuk penghentian segala bentuk kekerasan, tuntutan-tuntutan pemuda, pelajar, dan mahasiswa untuk pendidikan murah dan lapangan kerja yang layak.

Dengan tetap menohok jantung kekuasaan SBY-JK serta mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari pertentangan elit borjuasi, gerakan ini haruslah berkobar di kantong-kantong kekuatan massa mana kaum buruh, tani, miskin kota, perempuan, pemuda dan pelajar, yakni kantong-kantong di mana massa berhimpun, bekerja, atau bertempat-tinggal. Sesungguhnya, kemenangan besar dari gerakan menolak kenaikan BBM terletak pada kesanggupan massa rakyat untuk bangkit, berhimpun dan berlawan sebagai jawaban utama rakyat atas krisis dan kesengsaraan yang ditaburkan semena-mena oleh SBY-JK.***

Untuk menyimak seluruh materi dalam brosur terbaru FPR silakan klik brosur-fpr-10-juli-2008

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s