Pernyataan Pers Uplink Indonesia: Tragedi Pembagian Zakat Pasuruan

 

 

Tepat sebulan setelah Pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat RI tanggal 15 Agustus lalu, tragedi pembagian zakat Pasuruan terjadi. Dalam pidatonya, presiden mengungkapkan keberhasilan pemerintahnya dalam menurunkan angka kemiskinan, dari 17,7 persen pada tahun 2006 menjadi 15,4 persen pada Maret 2008. Tragedi pembagian zakat di Pasuruan Senin (15/9) kemarin menewaskan 21 orang miskin akibat berdesak-desakan mengantri pembagian zakat sebesar Rp 30.000 rupiah yang diselenggarakan oleh keluarga H. Syakoni di Pasuruan, Jawa Timur. Mensesneg Hatta Rajasa mengatakan, “angka kemiskinan kita yang turun bukan berarti dengan kejadian itu terbantahkan. Tidak relevan. Ini pelajaran bagi kita semua.”  (detiknews.com, Selasa, 16/09/2008 11:19 WIB )

 

Benar, kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, termasuk pemerintah. Pemerintah yang seharusnya memulainya dengan mengakui bahwa telah gagal melakukan pengentasan kemiskinan, alih-alih membanggakan diri dengan capaian-capain statistik yang juga masih mengundang perdebatan. Kejadian ini mungkin tidaklah signifikan kalau dilihat dari data statistik, namun bukanlah sikap yang bijak kalau pemerintah mengingkari realitas ini  dan bersembunyi di balik angka-angka statistik.

Sangatlah ironis, peristiwa ini terjadi di tengah anggaran program penanggulangan kemiskinan yang, seperti yang disampaikan dalam pidato kepresidenan tersebut, telah meningkat sekitar tiga kali lipat dalam kurun waktu 2005-2008. Ternyata, peningkatan jumlah anggaran tidak diikuti dengan efektifitas program-program penanggulangan kemiskinan yang beraneka ragam (lebih dari 50 jenis program).   

Ini juga sebuah pelajaran bagi semua pihak, agar dalam memberikan bantuan kepada rakyat miskin, dilakukan dengan cara-cara yang memanusiakan rakyat miskin, jangan menjadikan rakyat miskin sebagai obyek, dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang penuh tanggung jawab. Masih segar di ingatan kita beberapa waktu yang lalu, Tum Desem Waringin menyebarkan uang lewat helikopter dan membuat rakyat miskin berlarian dan berebutan uang. Cara-cara yang menjadikan rakyat miskin sebagai barang mainan ini harus ditinggalkan. Pembagian BLT yang berresiko tinggi dalam pelaksanaannya juga harus ditinjau ulang.

Kami,Urban Poor Linkage (UPLINK) Indonesia dan Jaringan Rakyat Miskin Kota Indonesia, dengan ini:

1. Meminta pemerintah untuk mengakui kegagalan program-program penanggulangan kemiskinan yang dilakukannya, melakukan evaluasi, dan segera merumuskan ulang semua sehingga lebih efektif, akurat, dan bersifat pemecahan jangka panjang.

2. Meminta pemerintah untuk merumuskan pola-pola pemberian bantuan oleh semua pihak kepada rakyat miskin sehingga bisa dilaksanakan dengan perencanaan matang, manusiawi, dan bertanggung jawab.

3. Menyerukan semua pihak untuk melakukan penyaluran bantuan kepada rakyat miskin secara manusiawi dan bertanggung jawab, dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang aman

4. Mendukung aparat keamanan dalam melakukan pengusutan terhadap tragedi pembagian zakat Pasuruan dan melakukan penindakan pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku.

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s