Pemerintah Lamban Urus Pemulangan Alm. Nurhayati

Kelambanan Pemulangan Jenazah Nurhayati (PRT Migran asal Garut Jabar) Menunjukkan masih Lemahnya Komitmen Politik Pemerintah RI dalam Melindungi Buruh Migran Indonesia

Jenazah Almarhumah Nurhayati (asal Kp. Regol RT 001 RW 005 Desa Sindangmekar Kec. Wanaraja Kab. Garut  Jawa Barat), PRT migran yang meninggal di Jeddah pada 10 Juni 2008 (4 bulan 6 hari yang lalu), akhirnya akan tiba di Jakarta pada hari Jum’at, 17 Oktober 2008 dengan menggunakan pesawat Saudi Airlines dengan nomor penerbangan SV 824. Jenazah akan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.00 WIB dan akan dilangsung dibawa ke Garut Jawa Barat. Sebelum informasi ini diperoleh dari Deplu RI, keluarga korban juga menerima informasi bahwa jenazah korban akan tiba di Jakarta pada tanggal 16 Oktober 2008.

Kematian buruh migran Indonesia di luar negeri sepertinya bukan dianggap lagi sebagai kabar duka bagi bangsa ini. Tidak pernah ada sambutan layaknya pahlawan (meski Negara selalu menyebut buruh migran sebagai pahlawan devisa) bagi kedatangan jenazah buruh migran, dan satu persatu bahkan secara kolektif (kecelakaan kapal di Port Klang Malaysia yang menewaskan 14 TKI dan kecelakaan angkutan BNP2TKI di Indramayu yang menewaskan 5 orang) nyawa buruh migran Indonesia mati sia-sia. Disisi yang lain, dua hari yang lalu, tepatnya 13-15 Oktober 2008 baru saja berlangsung the 2nd Asia Europe Meeting (ASEM) Labour and Employment Minister’s Conference di Nusa Dua Bali yang menghasilkan beberapa point penting terkait dengan tujuan untuk membangun platform bersama untuk perlindungan buruh migran  antara Negara pengirim dan Negara tujuan.

Merujuk pada surat dari KJRI Jeddah dengan menunjuk Nota kementerian Luar Negeri Wilayah Makkah Kerajaan Arab Saudi No. 91/94/77/10/ 15481/29 tanggal 11/7/1429 H. dan Surat dari PT. Amri Margatama No. 0152/AM/KS-KMT/ VII/08 tanggal 2 Juli 2008 perihal penelusuran kebenaran meninggalnya seorang WNI/TKI Nurhayati Bt.Utang Eji, diperoleh informasi bahwa Nurhayati telah meninggal dunia pada hari senin 10 Juni 2008, di rumah majikan daerah Bahrah wilayah Makkah dan jenazah di pindah ke rumah sakit King Abdul Aziz Jeddah wilayah Makkah sebab meninggal karena paru-paru.

Nurhayati (No Pasport AA927978) berangkat ke Jeddah pada 15 Januari 2006 melalui PT Amri Margatama dan Agency Al Musharraf Manpower Services, bekerja pada majikan yang bernama Fawaz Bin Hudhoiri Anzi. Selama hampir 3 tahun bekerja, Nurhayati tidak pernah berkomunikasi dengan pihak keluarga dan belum pernah mengirimkan gajinya, dan ini menjadi indikasi bahwa Nurhayati diduga kuat belum digaji selama dia bekerja.

Pihak keluarga pertama kali mengetahui informasi mengenai kematian Nurhayati dari seseorang yang mengaku majikan Nurhayati. Pihak kelurga kemudian berupaya menguhungi sponsor dan PT Amri Margatama, namun tidak ada informasi yang pasti. Pada tanggal 11 Agustus 2008, pihak keluarga mendatangi Migrant CARE yang kemudian didampingi ke Dirjen Binapenta Depnakertrans RI. Dan baru pada tanggal 16 Oktober 2008, ketika pihak keluarga dengan didampingi Migrant CARE bertemu dengan Direktorat Perlindungan WNI BHI Deplu RI, diperoleh kabar secara resmi mengenai kematian Nurhayati sekaligus jadwal kepulangan jenazahnya.

Migrant CARE menilai pemerintah RI sangat lamban dalam memproses kepulangan jenazah Nurhayati padahal Nurhayati telah meninggal selama 4 bulan 6 hari . Hal ini menunjukkan bahwa komitmen politik Pemerintah RI masih lemah dalam melindungi buruh migran Indonesia. Migrant CARE juga mendesak pemerintah RI untuk lebih serius dalam memenuhi hak atas informasi kepada setiap pihak keluarga buruh migran yang anggota keluarganya meninggal di luar negeri. Selain itu Migrant CARE juga mendukung tuntutan pihak keluarga atas pemenuhan hak-hak korban baik gaji maupun asuransi.

Jakarta, 16 Oktober 2008

Anis Hidayah                                                                  Nur Harsono

Direktur Eksekutif                                                          Divisi Advokasi

(081578722874)                                                                 (08179628657)

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pemerintah Lamban Urus Pemulangan Alm. Nurhayati

  1. sungguh sangat sedih mendengar kisah ini. akan kah bangsa ini peduli kaum buruh migrant?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s