Hentikan Tindakan Kekerasan dan Segera Penuhi Tuntutan Mahasiswa

Komarudin Hidayat Harus bertanggungjawab atas Tindakan Represif dan Pembubaran terhadap Demonstrasi  Keluarga Besar Mahasiswa Univesitas Islam Negeri (KBM-UIN) Jakarta

Salam Demokrasi!!

Dalam debat Calon Wakil Presiden beberapa waktu yang lalu Komarudin Hidayat, Rektor Uinversitas Islam Negeri Syharif Hidatullah Jakarta tampak cukup elok membawa perdebatan yang disiarkan dibeberapa stasiun televise tersebut. Sebagai pemimpin debat yang bertema “Jati Diri Bangsa”, seolah sang rector cukuplah piawai dan paham betul tentang tematik yang dibawa. Dengan nama besar yang disandang tentu saja public percaya bahwa sosok ini selain seorang inteletual, juga memegang teguh prinsip dan Nilai Demokrasi.

Kenyataan berbicara lain, sangat berbanding terbalik  seperti yang dilihat dan didengar. Pendangan yang diungkapkan didepan public membelakangi praktiknya dalam memimpin dan mengurus berbagai persoalan yang ada dikampus. Peristiwa tersebut berawal saat kurang lebih  350 mahasiswa UIN yang menamakan diri Keluarga Besar Mahasiswa (KBM-UIN) melakukan aksi protes terhadap kebijakan kampus, pertama, tentang pembayaran uang semester yang penuh bagi mahasiswa semester IX sampai ke atas. Kedua, Penghapusan Denda dan Sangsi untuk Mahasiswa yang Terlambat Bayar semester serta yang Ketiga, Tranparansi Keuangan Kampus. KBM-UIN yang terdiri dari BEM Syariah, Ekonomi, Psikologi, FMN, IMM, HMI, KM-UIN, LS-ADI, KOMPAK dan LEMI melancarkan tuntutan mulai pada hari kamis, 25 Juni.

KBM-UIN melakukan Relly dari Fakultas ke Fakultas untuk mengajak mahasiswa melakuakn Hearing/ Negoisasi dengan Rektor. Aksi protes tersebut disambut hangat oleh mahasiswa, hingga mahasiswa berbondong-bondong mendatangi Rektorat, ruangan Komarudin Hidayat. Namun ajakan ratusan mahasiswa terhadap rector komarudin tidak dihiraukan sama sekali, bahkan Sampai pukul 17.00 sore massa aksi menunggu. Kebijakan tersebut sangat merugikan mahasiswa karena mahasiswa yang telat bayar di kenai sangsi untuk mengajukan cuti kuliah dengan penuh keterpaksaan, atau mengambil pilihan yang sama menyakitkan yaitu membayar denda keterlambatan bayar semesteran. Demikian juga dengan mahasiswa semester IX keatas harus bayar semester penuh, padahal mata kuliah yang diambil sangatlah sedikit atau bahkan hanya menyelesikan Skripsi.

Tindakan rector komarudin yang tidak bersedia duduk bersama, sangat menyakiti perasaan mahasiswa. Aksi protes terus berlanjut pada hari jumat, tanggal 26 juni. Ratusan mahasiswa kembali mendatangi rector dengan tuntutan yang sama. Namun Niat baik mahasiswa tersebut dijawab dengan Pemukulan dan Pembubaran Demostrasi Mahasiswa. Rektor mahasiswa melalui alat kekerasanya SatPam dan Preman (Karena Tidak Berseragam), menggelandang perwakilan mahasiswa yang berusaha menemui rector komarudin untuk mengajak Hearing/ Dialog. Tidak berhenti disitu, lebih dari 50 orang Satpam Kampus dan Preman kemudian melakukan Intimidasi, Ancaman serta membubarkan massa aksi dengan kekerasan. Massa Aksi terus di pukul dan dikejar sampai keluar kampus dan tercerai berai.

Tindakan anti-Dialog Rektor Komarudin tersebut sangat menciderai Upaya penegakan Demokrasi di kampus dan di Negeri ini. Seorang rector yang Intelektuil dan selalu bicara demokrasi nyatanya hanya hiasan dibibir, sementara praktik yang dilakukan sangatlah Anti-Demokrasi.  Yang sangat disayangkan, Tindakan kekerasan menjadi cara untuk mengurus persoalan mahasiswa. Kami selalu diajarkan oleh pimpinan kampus bahwa kampus adalah areal yang ilmiah, namun Justru rector yang melanggarnya sendiri dengan tindakan-tindakan yang sangat jauh dari Keilmiahan. Rektor Komarudin lewat alat kekerasanya menuduh Aksi tersebut disusupi provokator dari luar kampus, Steatment tersebut mengingatkan kami pada cara usang rejim masa lalu.  Menolak bertemu, menolak menjelaskan dan menghalau aspirasi sejati mahasiswa dengan kekerasan adalah bukti bahwa Komarudin Hidayat adalah Penghambat Demokrasi.

Pandangan dan Tindakan Rektor Komarudin yang bertolak belakang tersebut, sangat menyakiti mahasiswa. Kampus sebagai tempat untuk mengembangkan Kebudayaan Bangsa, dinodai dengan Praktik kotor sang rector. Kami butuh didengar dan diJelaskan, Bukan Kekerasan. Praktik lama dan Usang tersebut sama sekali tidak Menyurutkan perjuangan yang dilancarkan mahasiswa, Tindakan tersebut malah semakin membuka Kedok dan Muka Bopeng Rektor UIN di depan Mahasiswa. Kami Semakin yakin bahwa perjuangan Massa yang akan menyelesaikan segala persoalan mahasiswa dan Rakyat Indonesia.

Atas dasar kenyataan tersebut, Kami Mengecam dan mengutuk tindakan Represi yang dilakukan Rektor UIN dan kami Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP-FMN) Menuntut:

1. Segera Penuhi Tuntutan Mahasiswa, Dengan Mencabut berbagai Kebijakan Rektor yang sangat merugikan Mahasiswa.

2. Rektor Komarudin Hidayat harus bertanggungjawab atas Tindakan Represi dan Pembubaran Aksi Protes Mahasiswa.

Kami Mendukung sepenuhnya aksi Protes Mahasiswa UIN dan Kami Menyerukan untuk terus melanjutkan perjungan massa menuntut Aspirasi sejati Mahasiswa. Maju terus Perjuangan Rakyat, Dukung Sepenuhnya KBM-UIN.

Demikian Pernyataan Sikap Kami, Atas perhatianya Kami Sampaikan Terima Kasih!

Jakarta, 26 Juni 2009

Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP-FMN)

Nur Shohib Anshary

Sekretaris Jenderal

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s