Pandangan dan Sikap Front Perjuangan Rakyat (FPR) Memperingati 101 Tahun Kebangkitan Nasional, 11 Tahun Tumbangnya Rejim Fasis Soeharto

“Hentikan Perampasan atas Upah, Tanah dan Kerja”

Kobarkan Perjuangan Massa, Lawan Rejim Boneka SBY-Kalla.

Salam Juang!

Satu abad lebih atau tepatnya 101 Tahun yang lalu kebangkitan rakyat Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lainnya bergelora ditandai dengan berdirinya Budi Utomo serta organisasi-organisasi lainnya seperti Trikoro Darmo, VSTP, Sarekat Islam, IP, dan berbagai organisasi lainnya. harapan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka, lepas dari segala pengaruh dan dominasi bangsa lain inilah yang kemudian kita peringati sebagai hari kebangkitan nasional, walaupun kita meyakini bahwa perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan segala bentuk penjajahan sudah dilakukan jauh sebelum kebangkitan nasional. Hasilnya 37 tahun kemudian pada tahun 1945 Setelah melalui serangkaian perjuangan panjang, bangsa Indonesia mendeklarasikan diri sebagai bangsa merdeka  yang berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan dan pengaruh negara lain (penjajah).

Sembilan puluh (90) tahun kemudian setelah kebangkitan nasional atau 53 tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998 terjadi peristiwa bersejarah bangsa Indonesia yang kemudian biasa di sebut refomasi 1998, yang ditandai dengan jatuhnya rejim fasis kanan Jenderal Soeharto. Gerakan 98 ini lahir pada saat krisis ekonomi dan moneter yang menghantam Asia yang kemudian membuat rakyat Indonesia begitu menderita karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

Semangat kebangkitan Nasional juga menginspirasi gerakan pemuda mahasiswa untuk terus melakukan perjuangan pembebasan nasional di dalam negeri yang berujung pada tumbangnya rezim fasis Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, yang kemudian lebih dikenal dengan reformasi 98’. Kemenangan yang sebenarnya hanya menggantikan rezim boneka lama menjadi rezim boneka baru yang tetap dibawah control imperialisme AS. Kelamahan politik dan organisasi telah menjadi penyebab utama kenapa gerakan 98 tidak mampu menyatukan kekuatan rakyat dalam perjuangan bersama, gerakan pemuda mahasiswa menjadi terpisah dengan gerakan buruh dan tani. kelemahan yang menjadi refleksi bersama gerakan pemuda mahasiswa untuk terus melakukan gerakan pembetulan baik secara politik dan organisasi.

Kedua peristiwa tersebut memiliki arti yang istimewa dan penting dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Paling tidak menurut anggapan umum yang dominan berlaku saat ini, kedua peristiwa ini dipandang cukup memberikan andil dalam rentang panjang sejarah perkembangan masyarakat yang ada. Kelahiran organisasi modern dari kalangan intelektual bumi putra lapisan atas, yaitu Budi Utomo dan kebangkitan gerakan mahasiswa pada tahun 1998, dipandang memberikan inspirasi sekaligus menciptakan syarat-syarat bagi kebangkitan gerakan rakyat secara umum serta memberikan dasar bagi perubahan-perubahan yang fundamental terhadap sistem sosial lebih lanjut. Akan tetapi secara faktual, setelah seratus tahun kelahiran organisasi Budi Utomo dan 10 tahun reformasi, mayoritas klas, sektor dan golongan rakyat Indonesia justru semakin terpuruk dalam keterbelakangan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Oleh karenanya, saat ini merupakan moment yang tepat bagi seluruh rakyat tertindas dan terhisap di Indonesia, di tengah situasi keterpurukan bangsa dan negara akibat dominasi imperialisme yang berpadu dengan sistem sisa-sisa feodalisme untuk lebih berani dan secara jujur serta tegas melakukan koreksi maupun pembetulan atas esensi dari kedua peritiwa tersebut dengan cara memperbaruhi makna dan menempatkan rakyat sebagai pelaku sekaligus penggerak utama sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan situasi sosial-ekonomi dunia dan situasi sosial-ekonomi dalam negeri yang terjadi pada saat ini. Perayaan atas kedua peristiwa ini harus bisa keluar dari kerangkeng dan belenggu perayaan yang bersifat ceremonial maupun yang bersifat rutinitas semata.  Perayaan yang dilakukan atas kedua peristiwa tersebut harus dimanfaatkan oleh seluruh organisasi massa untuk lebih memperhebat perjuangan massa menuntut hak-hak sosial ekonomi dan hak-hak sipil demokratisnya sekaligus membongkar ketidakmampuan rezim SBY-Kalla dalam mengatasi krisis ekonomi yang semakin membuat penderitaan rakyat berlipatganda.   Dalam peringatan 101 Tahun Hari Kebangkitan Nasional dan 11 Tahun Reformasi maka kami dari FPR menyatakan :

1      Hentikan PHK dalam bentuk apapun

2      Naikan Upah

3      Hapuskan System Kerja Kontrak & Outsourcing

4      Stop Perampasan Tanah

5      Sediakan Sarana Produksi Murah & Tingkatkan Harga Hasil Pertanian

6      Berikan Jaminan Kebebasan Berserikat & Berorganisasi

7      Menuntut penghapusan segala biaya yang berlebih (overcharging) yang dibebankan kepada buruh migran Indonesia serta menuntut persamaan hak bagi buruh migran untuk dipandang sebagaimana buruh yang bekerja di sektor-sektor lain.

8      Menuntut untuk diratifikasinya konvensi PBB tahun 1990 tentang  perlindungan bagi Buruh Migran Indonesia dan Keluarga dan menuntut penghapusan seluruh MOU bilateral yang telah ditandatangani Pemerintah Indonesia dengan negara-negara penerima tenagakerja Indonesia yang tidak mengindahkan perlindungan dan pengakuan hak bagi buruh migran dan keluarganya.

9      Bubarkan Terminal Khusus TKI

10   Cabut UU No.39/Tahun 2004 tentang PPTKILN

11   Jaminan Lapangan Pekerjaan Yang Luas untuk rakyat

12   Cabut UU BHP

13   Realisasikan Anggaran 20% APBN&APBD

14   Sekolah Gratis & Kuliah Murah ( Turunkan SPP, Hapus Biaya Masuk, STOP Pungutan Liar, & Tingkatkan Fasilitas Kampus)

15   Keselarasan Upah & Jaminan Sosial bagi Perempuan

16   Pelayanan & Fasilitas Kesehatan Reproduksi/Keluarga yang Murah, Merata, Berkualitas.

17   Menuntut dan menolak campurtangan IMF, WB, ADB, WTO dan lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya terhadap kebijakan ekonomi dan politik Indonesia, termasuk menolak utang luar negeri yang telah menjadi beban rakyat.

Atas dasar tinjauan tentang keadaan-keadaan umum ekonomi dunia dan nasional serta dampaknya terhadap rakyat, Front Perjuangan Rakyat (FPR), sebagai aliansi luas organisasi massa dan organisasi non-pemerintah di Indonesia memandang perlu untuk terus memperkokoh persatuan di kalangan rakyat dengan berpegang pada sikap politik penolakan dan penentangan terhadap serangan-serangan imperialis dan kaki-kaki tangannya terhadap klas buruh dan rakyat pekerja lainnya di Indonesia. FPR juga kembali mengemukakan pentingnya aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai pilar tegak persatuan rakyat.

Jakarta 22 Mei 2009

FRONT PERJUANGAN RAKYAT (FPR)

https://fprsatumei.wordpress.com/

Nurshohib Ansyari

Koordinator Aksi

Hp. 085-232-459-333

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s