Pandangan, Sikap dan Pendirian Front Perjuangan Rakyat (FPR) Terhadap Pemilu Presiden 2009

PEMILU Presiden 2009: Hanya Ilusi Politik Semata, Bukan Jawaban Atas Persoalan Pokok Rakyat Indonesia

Hentikan Perampasan Upah, Tanah dan Kerja

Jurang krisis ekonomi dunia semakin dalam, Kemerosotan ekonomi telah membawa malapetaka besar bagi mayoritas umat manusia di bumi, khususnya Kaum buruh dan Tani. Penghancuran atas kehidupan klas buruh dan rakyat pekerja terus berlangsung tanpa henti. Poros kekuatan imperialis dunia – Uni Eropa-AS-Jepang–menunjukkan krisis yang semakin kronis. Solusi yang mereka jalankan adalah penyelamatan kepentingan kapitalis monopoli agar tetap berkembang dan di sisi lain menumbalkan kepentingan klas buruh di negerinya sendiri dan rakyat tertindas di negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan. PHK massal, meningkatnya pengangguran, merosotnya standar hidup layak bagi rakyat pekerja, dan seluruh faktor yang semakin memperkuat suramnya masa depan seluruh rakyat pekerja.  Restrukturisasi agresif atau PHK besar-besaran tetaplah menjadi  pilihan industry Kapitalis dan usaha memberi suntikan dana serta berbagai paket penyelamatan oleh Negara adalah kebiasaan negeri-negeri Imperialis daripada melidungi para Pekerja dari PHK. Sudah tidak terbantahkan lagi, Kapitalisme Monopoli akan selalu melahirkan krisis. Saat ini negera-negara imperialis mengalami krisis paling Tajam sejak Malaise 1929 dan  1970,  Krisis likuiditas dan terpukulnya sektor riil telah memicu kemerosotan hampir di seluruh sektor industri modern Dunia. Rezim yang berkuasa tak mampu menghentikan merosotnya ekspor komoditas dan semakin tingginya defisit neraca perdagangan  yang tiap saat bisa memicu krisis politik.

Krisis kronis ekonomi Indonesia jauh lebih mengenaskan. Kekeringan likuiditas yang menyelimuti perbankan nasional karena rendahnya kredit modal kerja dan investasi telah memukul ekonomi riil dalam posisi yang mengarah pada kebangkrutan dan memperdalam kerusakan ekonomi nasional. Program penyelamatan dengan stimulus ekonomi senilai 73, 3 trilyun rupiah tidak akan menjawab masalah pokok rakyat tentang upah, kerja dan tanah. Proyek pembangunan infrastruktur yang dirancang untuk mengurangi jumlah pengangguran, hanya akan berjalan dalam jangka yang sangat pendek dan dalam skala kecil. Hal ini sangat bertolak belakang dengan daya rusak krisis finansial global yang sangat dalam, panjang dan tak ada jalan keluar seperti situasi sebelumnya.

Dari waktu ke waktu, kenyataan adalah krisis ekonomi dunia yang semakin menajam. Kenyataan ini membantah seluruh omongan Rejim Boneka dan kaki tangannya. Mereka penipu besar, dan masih saja meneruskan pembodohannya dengan menyatakan bahwa pembangunan kapitalisme akan menghasilkan kesejahteraan bagi dunia. Mereka juga bicara tentang kapitalisme akan membawa nilai-nilai kebebasan dan demokrasi. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah stagnasi, pembusukan, kekerasan dan perang. Kesejahteraan dan kebebasan seperti fatamorgana di padang pasir yang tandus dan mematikan. Mereka semakin menindas klas buruh dan rakyat dari bangsa-bangsa setengah-jajahan maupun jajahan dengan senjata, blockade ekonomi, intimidasi politik, dsb

Pemilu 2009, Perebutan untuk Menjadi Boneka Baru Imperialis

Saat ini Demokrasi Indonesia tetaplah demokrasi yang di dominasi oleh musuh-musuh rakyat – para komprador, tuan tanah dan kapitalis birokrat. Merekalah yang mengendalikan politik di Indonesia.  Seluruh partai politik adalah bagian dari mesin kekuasaan yang mereka miliki dan sepenuhnya di bawah kendali mereka. Partai-partai milik klas yang berkuasa masih mendominasi baik di eksekutif maupun legislatife, dan memaksa partai-partai kecil untuk tunduk-patuh-tertindas dengan segala konsesi murahan yang menunjukkan betapa bangkrutnya partai-partai milik kaum borjuis tersebut.

Sementara ilusi ekonomi terus ditaburkan oleh kaum reaksi sembari menipu rakyat dan melupakan bahwa mereka sendiri adalah akar dari krisis di negeri setengah jajahan dan setengah feodal ini. Mereka adalah sumber malapetaka bagi rakyat dan bukan solusi. Dengan mulut yang lebih manis mereka sekarang mulai ‘menebar pesona’ dengan frase-frase indah seperti ‘ekonomi kerakyatan’, memberi kesan seolah-olah ’ anti terhadap neoliberal’, dan kalimat tanpa makna tentang ‘kebangkitan nasional’ tanpa menyentuh aspek rakyat sedikit pun. Mereka seperti terkena amnesia massal tentang apa yang telah mereka perbuat selama berkuasa adalah tidak lain kecuali perampasan atas upah, kerja dan tanah.

Para CaPres dan CawaPres saat ini sedang asyik melakukan  ‘belanja politik’ yang mencapai trilyunan dari jumlah total kekayaan hasil dari perampokan klas mereka. ‘Belanja politik’ merupakan investasi untuk merebut kekuasaan negara sebagai pusat politik untuk melahirkan berbagai kebijakan ekonomi yang menguntungkan mereka selama berkuasa. Selain itu dari seluruh catatan dan track record kontestan pemilu presiden dan wakil presiden yang ada, secara hakekat menunjukan tidak ada perbedaan latar belakang Pendirian dan watak kepemimpinannya. Semua berasal dari Unsur yang berkuasa atau pun pernah berkuasa. Baik itu pasangan SBY-Budiono, JK-Wiranto, ataupun Mega-Prabowo.  Dan yang istimewa adalah pasangan kombinasi pasangan yang ada semuanya melibatkan mantan militer yang punya catatan represif dan  keras dalam menyelesaikan persoalan rakyat.

Tradisi anti rakyat yang dijalankan oleh rezim neokolonial kemudian juga berlanjut ke pemerintahan SBY-JK, pasangan yang terpilih pada tahun 2004 yang kemudian menjadi rival dalam pemilihan presiden 2009. Keduanya begitu kompak menindas rakyat, berbagai kebijakan yang dilahirkan pada hakekatnya tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Kenaikan harga BBM tetap saja terjadi, PHK terhadap buruh tetap saja dilakukan, bahkan jauh lebih besar. UU Penanaman Modal tahun 2007 disahkan, sementara pendidikan semakin diorientasikan sebagai sector yang di perdagangkan, untuk membuka investasi. Jika Megawati mengeluarkan induk undang-undang tentang system pendidikan nasional yang kontroversial, maka SBY-JK melanjutkannya dengan peraturan yang jauh lebih rigid tentang komersialisasi pendidikan yang di manifestasikan dalam UU BHP yang disahkan pada 17 Desember 2008.

Privatisasi BUMN tetap menjadi pilihan idaman rejim boneka, SBY-JK tercatat melego 34 BUMN. Selain itu pemerintahan SBY-JK juga menjual  blok cepu ke pihak AS, padahal diperkirakan cadangan minyak yang ada diblok Cepu mencapai 10,9 Milyar barel atau setara dengan semua cadangan minyak yang ada saat ini di Indonesia. Kenaikan GDP selama 4 tahun masa SBY-JK memerintah hanya 0,9% dengan utang Negara mencapai Rp 1,456 Trilliun. Kenaikan harga kebutuhan pokok rakyat juga terus meningkat dan tentu saja kian mencekik penghidupan rakyat. Ketika rakyat tercekik akibat imbas krisis ekonomi, sangat nyata pemerintahan SBY-JK lebih memilih menyelamatkan klas dan golongannya, kebijakan PB 4 menteri, buyback dan program stimulus fiscal menjadi bukti nyata kegagalan pemerintahan SBY-JK atas rakyat Indonesia.

Perkokoh Persatuan Buruh dan Tani, Kobarkan terus Perjuangan Massa

Sehingga tidak menjadi berlebihan ketika janji kampanye yang dilontarkan dengan jargon-jargon muluknya “pemerintahan bersih” ala SBY-Budiono, “Ekonomi kebangsaan” ala JK-Wiranto dan “Ekonomi Kerakyatan” milik Mega-Prabowo tidak lebih dari jualan kecap manis yang berujung pada kenyataan yang begitu pahit untuk rakyat. Hal ini mengingatkan bahwa dalam 10 kali pemilu dilakukan oleh bangsa Indonesia tidak sekalipun mampu mengeluarkan rakyat Indonesia dari Jurang kemelaratan. Jika Prabowo Subianto dalam debat antar cawapres tanggal 23 Juni 2009 mengatakan bahwa Indonesia harus berani merubah system yang selama ini gagal memenuhi hak-hak dasar rakyat, tapi sayang pernyataan ini dikeluarkan oleh seorang Prabowo Subianto yang jelas-jelas merupakan bagian dari Pengusaha besar dan Tuan tanah, sehingga dipastikan tidak akan ada realisasinya. Fakta membuktikan bahwa kekayaan mereka semakin berlipat tiap tahunnya, jadi mustahil jika pemerintahan yang dibangun nanti tidak akan melindungi kekayaanya. Sudah tentu, kekuasaan yang dijalankannya pertama-tama akan diabdikan bagi klas-klas rekasioner dan komprador dalam negeri.

Mengharap kebaikan dari Penguasa sudah tidak mungkin lagi bagi rakyat, Kesengsaraan yang semakin menjepit mayoritas rakyat yaitu Kaum Buruh dan Tani Hanya bisa diselesikan dengan kekuatannya sendiri. Karnanya Perjuangan Massa harus terus dikobarkan, Gerakan massa Demokratis harus terus ditingkatkan Kuantitas dan kualitasnya setahap demi setahap. Atas dasar penderitaan rakyat yang panjang dan dalam tersebut, Kenyataan telah Mewajibkan Kaum buruh dan Tani sebagai rakyat yang paling ditindas dan memiliki pendirian yang paling teguh untuk memperkokoh persatuan. Aliansi dasar tersebut yang secara kongrit Paling Konsisten melancarkan perjuangan Rakyat Melawan Rejim Boneka, Wakil Sejati dari Imperialisme dan Feodalisme.

Dengan demikian, kami Front Perjuangan Rakyat (FPR) Berpandangan, Berpendirian dan Bersikap bahwa PEMILU 2009 baik pemilu legislative maupun pemilu presiden bukanlah jawaban ataupun solusi atas berbagai persoalan mayoritas rakyat Indonesia. Jalan keluar satu-satunya adalah terus melancarkan perjuangan massa untuk menuntut berbagai kepentingan maupun hak-hak sosial-ekonomi dan politik dari klas buruh, kaum tani dan berbagai golongan rakyat tertindas lainnya. Ditengah krisis yang berkepanjangan ini, rakyat hanya terus terancam terampas Haknya atas upah layak, Tanah sebagai sumber penghidupan kaum tani serta pekerjaan bagi tenaga produktif. Dengan momentum Pemilu Presiden saat ini kami kembali menuntut Hentikan Perampasan Upah, Tanah dan Kerja sebagai tuntutan Pokok Rakyat, atas dasar Pandangan, Pendirian dan Sikap tersebut Kami Kembali Menuntut pada rejim untuk:

  1. Menghentikan PHK dalam bentuk apapun, Penuhi Upah layak dan Hapuskan system kontrak dan Outsourcing bagi Buruh.
  2. Hentikan Perampasan Tanah, Sediakan Sarana Produksi Murah dan Tingkatkan harga Hasil Pertanian serta Jalankan Reforma Agraria Sejati Bagi Kaum Tani.
  3. Hapus Biaya Penempatan yang tinggi/ Overcharging, Ratifikasi Konvesi PBB tahun 1990 (tentang Perlindungan BMI), Bubarkan Terminal Khusus TKI dan Cabut UU PPTKILN bagi Buruh Migran Indonesia.
  4. Jamin Sekolah Gratis, Kuliah Murah (Turunkan SPP, Hapus Biaya Masuk Kuliah dan Tingkatkan Fasilitas) Cabut UU BHP, Realisasikan anggaran 20% APBN dan APBD untuk pendidikan bagi Pelajar dan Mahasiswa.
  5. Penuhi Pelayanan dan Fasilitas Kesehatan Reproduksi bagi perempaun/ Keluarga Miskin.
  6. Buka Lapangan Pekerjaan seluas-luasnya dan Jamin kebebasan berekspresi dan Berorganisasi Bagi Seluruh Rakyat.

Atas dasar tinjauan keadaan umum penghidupan rakyat yang terus merosot tajam, Kami Front Perjuangan Rakyat (FPR) sebagai aliansi luas organisasi massa dari berbagai sektor dan Golongan serta organisasi sosial lainnya menyerukan kepada seluruh rakyat indonesia untuk terus mengobarkan perjuangan massa serta memperkokoh persatuan dikalangan rakyat. Perkuat aliansi dasar Klas buruh dan Kaum Tani sebagai pilar tegak berdirinya persatuan Rakyat untuk membendung berbagai serangan Imperialis dan kakitangannya dalam negeri.

Demikian Pernyataan Sikap kami, atas perhatian dan Segala Dukungannya kami Sampaikan Terima Kasih!!

Jakarta, 27 Juni 2009

Front Perjuangan Rakyat (FPR)

Rudi HB Daman

Koordinator

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pandangan, Sikap dan Pendirian Front Perjuangan Rakyat (FPR) Terhadap Pemilu Presiden 2009

  1. ulasan yang menarik
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s