PERNYATAAN BERSAMA JAKERLA PRT (JARINGAN KERJA LAYAK PEKERJA RUMAH TANGGA)

rev21SELAMATKAN 100 JUTA PRT DI DUNIA, 3 JUTA PRT DOMESTIK, 6 JUTA PRT MIGRAN DARI INDONESIA DARI SITUASI TIDAK LAYAK, KERJA PAKSA

MARI DUKUNG LAHIRNYA KONVENSI ILO UNTUK PERLINDUNGAN PRT

Salam Solidaritas,

Penghidupan rakyat semakin terpuruk, kemiskinan dan kelaparan merajalela, pengangguran dan angka putus sekolah berhamburan, tindakan kekerasan dan kriminalpun semakin membabibuta. Fakta ini bisa kita lihat dari potret penghidupan Rakyat Indonesia di pedesaan,yang tinggal di kolong-kolong, pinggir jalan perkotaan hingga kepinggir-pinggir kali. Pendidikan yang menjadi labuhan impian Rakyat Indonesia untuk memperbaiki status sosialnya ditengah masyarakat dan untuk menjamin taraf hidupnya yang lebih layak kini hanya menjadi mimpi semata yang begitu sulit untuk diakses secara luas oleh setiap lapisan Masyarakat Indonesia, bahkan pendidikan yang telah jauh dari hakekatnya kini hanya menjadi barang komoditi yang mustahil dapat dibeli oleh kaum tani dan klas buruh karena terlalu mahalnya pendidikan, naiknya harga harga kebutuhan pokok dan maraknya PHK.


Dari pendidikan, akses kesehatan, dan dalam memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari yang sangat jauh dari kemampuan mayoritas Masyarakat Indonesia. Padahal jelas dalam UUD 1945 menyatakan bahwa Pemerintah harus Mensejahterakan Rakyatnya. Kenyataan hari ini menyimpulkan bahwa pemerintahan hari ini gagal dalam tugas-tugasnya demi mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Realitas menunjukkan pelanggaran HAM kerap terjadi pada kawan-kawan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) – yang mayoritas adalah perempuan dan anak, pelanggaran atas hak anak dan atas hak pendidikan. Kekerasan yang bisa dalam berbagai bentuk sangat mudah terjadi padanya, mulai dari asalnya, ketika bermigrasi, di tempatkerjanya dan juga pasca bekerja. Berdasarkan Sakernas BPS 2008, data Migrant Care, dan estimasi ILO Tahun 2009 dari berbagai sumber data, PRT merupakan kelompok pekerja perempuan terbesar secara global: lebih dari 100 juta PRT di dunia, lebih dari 3 juta PRT domestik di Indonesia dan lebih dari 6 juta PRT migran dari Indonesia – PRT sampai saat ini menempati posisi teratas sebagai tujuan migrasi tenaga kerja Indonesia.

Angka di atas itupun tidak bisa menjangkau semua PRT-PRTA yang di dalam semua keluarga/rumah yang mempekerjakannya, . Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan keterpaksaan perempuan-perempuan desa yang tidak bisa mencari pekerjaan di desa atau juga sebagai petani karena mahalnya bahan-bahan pertanian seperti pupuk, tapi dengan nilai jual hasil panen yang rendah, begitu juga menimgkatnya angka putus sekolah yang memaksa anak-anak desa mencari pekerjaan ke kota sebagai ‘Pekerja Rumah Tangga”(kaum perempuan yang tidak memiliki pilihan penghasilan yang lebih baik selain sebagai PRT) serta permintaan akan pekerja rumah tangga merupakan pendorong utama feminisasi arus migrasi internasional.

Melihat dari jumlahnya bahwa PRT ini adalah segmen pekerja yang sangat dibutuhkan untuk jutaan rumah tangga, yang memungkinkan anggota rumah tangga menjalankan berbagai jenis aktivitas publik dan di segala sektor. Realitas menunjukkan karir, profesionalitas, kesejahteraan keahlian di berbagai bidang juga karena peran ”tokoh di belakang layar” yaitu ”PRT”, karena tugas-tugas domestik digantikan oleh Pekerja Rumah Tangga. Maka bisa dibayangkan rantai elemen kontribusi ekonomi, sosial dan kerja ratusan ribu dan jutaan orang di segala sektor penyelenggaraan negara dan melewati batas negara, pendidikan, pengembangan iptek, usaha: industri barang, jasa, hiburan juga karena kontribusi PRT.

Namun demikian, dalam realitasnya, Pekerja Rumah Tangga ini rentan berbagai kekerasan dari fisik, psikis, ekonomi, sosial. PRT berada dalam situasi hidup dan kerja yang tidak layak, situasi perbudakan. PRT mengalami pelanggaran hak-haknya: upah yang sangat rendah (< rata-rata) ataupun tidak dibayar;  ditunda pembayarannya; pemotongan semena-mena; tidak ada batasan beban kerja yang jelas dan layak – semua beban kerja domestik bisa ditimpakan kepada PRT, jam kerja yang panjang: rata-rata di atas 12-16 jam kerja yang beresiko tinggi terhadap kesehatan, nasib tergantung pada kebaikan majikan; tidak ada hari libur mingguan, cuti; minim akses bersosialisasi – terisolasi di rumah majikan, rentan akan eksploitasi agen – korban trafficking, tidak ada jaminan sosial, tidak ada perlindungan ketenagakerjaan, dan PRT migran berada dalam situasi kekuasaan negara lain. Pekerja rumah tangga tidak diakui sebagai pekerja, karena pekerjaan rumah tangga tidak dianggap sebagai pekerjaan yang sesungguhnya dan mengalami diskriminasi terhadap mereka sebagai perempuan, migran, pekerja rumah tangga dan anak-anak. Dikotomi antara PRT baik domestik dan migran  dengan buruh domestik dan migran pada sektor yang lain sering mengakibatkan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif bagi PRT domestik dan migran.

Sementara di sisi lain perlindungan hukum baik di level lokal, nasional dan internasional tidak melindungi PRT. Kondisi ini yang semakin memberi ruang sistematis bagi pelanggaran hak-hak PRT. Mengambil pelajaran dari situasi tidak layak – perbudakan dan peristiwa penganiayaan terhadap PRT baik domestik, migran, termasuk anak-anak, penting untuk mengingatkan kepada negara: pemerintah, dan wakil rakyat yang selalu berpikir menunggu jumlah kasus, baru kemudian mengambil langkah. Dalam realitasnya dan andai bisa bercerita, maka akan kita tahu bahwa jutaan kawan-kawan PRT mengalami persoalan eksploitasi, kerentanan pelecehan dan kekerasan, dan mereka tak berdaya menyuarakannya. Maka bagaimanapun sistem perlindungan untuk mencegah dan melindungi PRT dari berbagai tindak kekerasan adalah hal yang mendasar dan mendesak.

Atas situasi ini, beberapa inisiatif dan langkah advokasi perlindungan untuk Pekerja Rumah Tangga telah diambil baik di tingkat nasional dengan pengajuan RUU Perlindungan PRT,  desakan Ratifikasi Konvensi Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya, desakan Amandemen UU ttg Pekerja Migran. Di tingkat internasional, ILO dan berbagai organisasi serikat-serikat buruh, organisasi ham, telah mulai mengusung lahirnya Konvensi Perlindungan PRT yang akan dibahas 2010. Untuk proses ini ILO mengirimkan laporan mengenai undang-undang dan praktek yang disertai sebuah kuisioner kepada para negara anggota ILO mengenai usulan lahirnya Konvensi ILO Perlindungan PRT. Pemerintah diminta berkonsultasi dengan organisasi pekerja dan asosiasi pengusaha untuk memberikan responnya paling lambat akhir Agustus 2009 untuk diproses lanjut.

Namun hingga akhir Juli 2009, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tidak menunjukkan kejelasan respon atas pentingnya lahirnya Konvensi Perlindungan PRT sebagai hal yang sudah mendesak. Bisa dikatakan bahwa apabila Pemerintah RI – Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tidak merespon positif dan mendukung lahirnya Konvensi Perlindungan PRT, maka Pemerintah RI telah membiarkan pelanggengan perbudakan atas jutaan PRT.

Melihat pertama: kondisi kerentanan-kekerasan yang dialami oleh PRT, kedua: pentingnya perwujudan penghargaan – perlindungan Hak-Hak Pekerja Rumah Tangga, ketiga: pentingnya penghargaan terhadap arti penting pekerjaan rumah tangga, keempat: ketidakpedulian pemerintah – Depnakertrans RI atas situasi tidak layak, situasi kerja paksa dan perbudakan yang dialami PRT, maka JAKERLA PRT (JARINGAN KERJA LAYAK PEKERJA RUMAH TANGGA), menyatakan:

  1. PEKERJA RUMAH TANGGA ADALAH PEKERJA
  2. STOP SITUASI TIDAK LAYAK PRT, STOP PERBUDAKAN PRT
  3. MENUNTUT PEMERINTAH RI KHUSUSNYA PRESIDEN, MENTERI TENAGA KERJA & TRANSMIGRASI UNTUK MENDUKUNG LAHIRNYA KONVENSI ILO PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA
  4. MEMINTA KEPADA ANGGOTA TRIPARTIT LAINNYA: APINDO, PARA KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA/BURUH UNTUK MENDUKUNG LAHIRNYA KONVENSI ILO PERLINDUNGAN PRT
  5. MENUNTUT PEMERINTAH RI KHUSUSNYA PRESIDEN, MENTERI TENAGA KERJA & TRANSMIGRASI, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT UNTUK MEWUJUDKAN: UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA, RATIFIKASI KONVENSI PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN DAN KELUARGANYA
  6. PENUHI DAN HARGAI HAK-HAK PRT SEBAGAI PEKERJA, WUJUDKAN KERJA LAYAK UNTUK PRT: UPAH LAYAK, JAMINAN SOSIAL, HAK BERSERIKAT-BERASOSIASI, HAK LIBUR MINGGUAN, HAK CUTI, HAK ISTIRAHAT, DAN HAK-HAK LAINNYA SEBAGAI PEKERJA

Pernyataan tersebut diatas sebagai bagian dari  tuntutan kami terhadap komitmen dan tanggungjawab Pemerintah RI khususnya Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melindungi warga negaranya yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga baik di dalam ataupun migran dan juga ajakan kepada masyarakat mewujudkan pengakuan, penghargaan dan perlindungan terhadap PRT.

Demikian peryataan ini kami sampaikan.

JAKARTA, MINGGU, 2 AGUSTUS 2009

JAKERLA PRT

(JARINGAN KERJA LAYAK PEKERJA RUMAH TANGGA)

Kontak Person:

Anis Hidayah Migrant Care : 081578722874, Lita Jala PRT: 0811282297, Retno ATKI: 0817820952, Hadi SBMI: 08175753305, Mike – Seknas KPI: 08133292950

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to PERNYATAAN BERSAMA JAKERLA PRT (JARINGAN KERJA LAYAK PEKERJA RUMAH TANGGA)

  1. Rumpun Tjoet Njak Dien adalah lembaga sosial yang bergerak dalam penguatan, pendampingan dan perlindungan pekerja rumah tangga. Kunjungi blog kami di rumpuntjoetnjakdien.blogspot.com dan website kami di http://www.rtnd.org. Hidup PRT!

  2. RTND says:

    LSM Rumpun Tjoet Njak Dien adalah lembaga sosial yang bergerak di bidang penguatan, pendampingan dan perlindungan PRT. Kunjungi web dan blog kami di http://www.rtnd.org dan http://www.rumpuntjoetnjakdien.blogspot.com. Hidup PRT!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s