Kronologis Penembakan/ Peristiwa represif aparat Minggu, 9 agustus 2009

08:00 WITA

Aparat dari Polres Takalar berada di lokasi untuk mengawal pengolahan oleh pihak PTPN dipimpin langsung Oleh Kapolres Takalar.

08:15 WITA

Sebagian warga yang berada dikebun dan sebagian Warga yang berada di desa-desa masing yang mendengar akan adanya pengolahan atau untuk merawat bergegas kelokasi tetapi dilokasi warga tidak melakukan perlawanan

08:30 WITA

Warga dan pihak polisi saling berhadap-hadapan di lokasi lahan yang akan digarap PTPN.  Beberapa orang aparat polisi memerintahkan warga untuk mundur, tapi tidak diindahkan oleh warga.

Pihak PTPN tetap memprovokasi warga dengan melakukan proses perawatan dgn menggunakan  6 buah traktor.

Pihak PTPN menurunkan 6 (enam) unit traktor untuk melakukan penggarapan lahan. Ini menyebabkan kondisi bertambah tegang, warga semakin mendekat dan saling berhadap-hadapan dengan pihak PTPN dan aparat.

Di lokasi telah hadir beberapa orang karyawan PTPN dan melakukan provokasi kepada warga dengan melakukan tindakan-tindakan yang memancing perhatian (berteriak, dll).

09:20 WITA

Pasukan tambahan pengamanan dari Brimob dan PHH tiba di lokasi, berjumlah sekitar 50 personal dengan bersenjata lengkap. Pasukan tambahan ini langsung menggantikan aparat dari Polres Takalar, dan langsung mengambilalih pengamanan.

Hanya berselang 5 menit kedatangannya di lokasi kejadian, aparat langsung menembakkan gas airmata dan peluru karet ke arah warga. Hal ini membuat warga yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan tersebut menjadi kaget dan panik. Warga berhamburan menyelamatkan diri, sementara itu aparat memburu warga dan menangkapi satu persatu.

Setidaknya terdengar 100 kali tembakan yang keluarkan oleh aparat polisi, dan kemudian mengenai 6 (enam) orang warga masing-masing di bagian kepala, paha, perut, dada dan kaki (terlampir). Warga melakukan perlawanan dengan melemparkan batu ke arah aparat. Kondisi yang tidak berimbang ini makin tegang, dan represifitas aparat semakin meningkat dengan terus mengintimidasi warga.

Ketegangan terus memuncak hingga kurang lebih 1 (satu) jam lamanya. Dalam selang waktu ini, penangkapan terus terjadi disertai pemukulan, bahkan hal ini terjadi pada mahasiswa dan 1 (satu) orang jurnalis (Metro TV) yang tengah meliput di lapangan.

Selain melakukan penangkapan, aparat melakukan penghapusan gambar pada kamera yang dimiliki wartawan Metro TV tersebut.

10:00 WITA

Suasana panas sedikit menurun, warga mulai mundur dan tercerai berai. Sementara itu aparat juga ditarik mundur ke arah titik awal berkumpul (tepi lahan garapan).

Selang beberapa waktu, warga mulai berkumpul kembali untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk.

10:45 WITA

Kondisi kembali berubah menjadi tegang. Warga yang berada di sekitar tempat kejadian kemudian tambah mendekat, untuk mencari tahu kondisi warga yang ditangkapi. Hal ini direspon oleh aparat untuk terus menghalangi warga mendekat ke arah lahan.

Warga dan aparat akhirnya bersitegang kembali. Warga kemudian mundur dan menyebar untuk bersiaga.

11:20 WITA

Kejadian ini langsung tersebar ke desa-desa sekitar. Warga dari desa lain kemudian datang dan bergabung dengan warga yang telah lebih dulu hadir di lokasi. Mereka berkumpul dan berjaga-jaga.

Baik warga dan aparat dalam kondisi siaga.

12:00 WITA

Warga terus berdatangan dan berkumpul di beberapa tempat. Kondisi tetap tegang, dimana warga dan aparat sama-sama kondisi siaga

13:30 WITA

Saksi mata menyebutkan ada sebuah lemparan batu dari arah PTPN, disusul suara deru mesin traktor yang cukup bising yang memancing perhatian warga. Kejadian ini membuat warga berkumpul kembali sebagai respon kejadian tersebut.

Provokasi ini akhirnya membuat suasana kembali tegang. Aparat kemudian mengeluarkan tembakan peluru karet dan gas air mata.

Warga yang kaget dan panik, hanya merespon dengan melemparkan batu ke arah aparat sebagai respon. Provokasi aparat ke warga semakin dilancarkan dengan teriakan “orang Takalar bencong! Orang takalar penakut!”.

Aparat terus memburu warga dengan mengarahkan tembakan langsung ke arah warga (bukan ke arah atas, tetapi ke arah tubuh). Aparat terus berteriak “Tembak saja! Tembak!” ke warga yang ditembak di bagian kepala.

Satu orang warga, Dg Nangring, ditembak di kepala dari arah dekat, lalu dihantam senjata.

Beberapa motor warga yang terparkir di sekitar tempat kejadian juga diangkut oleh aparat.

14:10 WITA

Warga membubarkan diri. Sebagian menuju posko pengaduan, sebagian menuju rumahnya masing-masing.

Seluruh korban dievakuasi ke puskesmas terdekat. Di puskesmas, petugas medis menolak menangani korban karena takut akan diminta pertanggungjawaban dari aparat, dan merekomendasikan untuk merujuk ke Rumah Sakit Takalar.

Kondisi Yang ditembak

  1. Haris Naba (Romang Lompoa) Ditembak di lutut sekarang  ditahan /dirawat dibayangkara
  2. Jufri Toua (Parambaddo) Tertembak di perut kanan, juga di tahan
  3. Jamaluddin La’bang (Barugaya), tertembak dikaki (betis sebelah kiri dekat mata kaki), dirawat dirumah
  4. Dg. Massu (Barugayya) tertembak di jidat kanan kepala, dirawat dirumah
  5. Nasmin Nanring (Timbuseng) tertembak di kepala bagian kiri, awalnya kepuskesmas tapi tidak mendapat perawatan
  6. Dg. Nai (Timbuseng), tertembak di dada
  7. Jumaing Dg. Sarro (Barugayya), petani ± 70 tahun terkena di paha kiri dilahan sengketa/bentrok 1 , jarak korban ±  10 meter dengan aparat.

Yang di Tangkap

  1. Budianto ( BPR FMN Makassar)
  2. H. Bani (Barugayya)
  3. Sattu Bautan (Kampung Beru)
  4. Dg. Naba (Kampung Beru)
  5. Dg. Sikki (towata)
  6. Ruma Dg. Rani (Barugaya)
  7. Kausang Dg. Lira (Timbuseng)
  8. Basareng Dg. Rimo (Barugaya)
Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kronologis Penembakan/ Peristiwa represif aparat Minggu, 9 agustus 2009

  1. yoga says:

    aparat anjing…kekerasan tak mungkin bisa menyekesaikan masalah..
    mungkin karena tak pernah merasakan perang dengan negara klain so,.mereka haus akan peperangan akhirnya masyarakat bangsa nya sendiri di habisi juga,…tak berdaya
    anjing polisi mileter..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s