FMN Menggelar Aksi Peringatan 17 Agustus 2008 dan Mendukung Perjuangan Kaum Tani Tapanuli Tengah

IMG_0091Imperialisme Pimpinan Amerika terus membawa petaka bagi umat di muka bumi, sistem busuk tersebut membawa perekonomian dunia  berada dalam Stagnasi dan kemunduran. Pemerintahan SBY-Kalla yang secara resmi menjadi Boneka Imperialis, terus membantu Sang Tuannya untuk memulihkan Krisis. Usaha tersebut dijalankan dengan melipatgandakan penghisapn dan Penindasan terhadap Rakyat, SBY-Kalla Lebih memilih melindungi Para Pengusaha besar dan Tuan Tanah Daripada Rakyatnya sendiri. Pada Giliranya   Angka putus sekolah Tak terbendung,  Pengangguran Meningkat, PHK Marak  hingga  Agresifnya Perampasan Tanah Kaum Tani, kenyataan Ini Membawa Penghidupan Rakyat berada dalam derajat kemerosotan yang Tajam.

Maraknya Perampasan atas lahan Petani yang makin meluas dipedesaan menimbulkan semakin banyaknya kaum Tani menjadi Buruh Tani, Biaya pendidikan yang terus naik serta potongan Subsidi dari Pemerintah juga mengakibatkan semakin sempitnya akses Rakat untuk dapat melanjutkan Pendidikan yang lebih Tinggi, bahkan tidak sedikit Rakyat Indonesia yang tidak bisa menyelesaikan Pendidikannya hingga Pendidikan tingkat Menengah terutama Anak Buruh dan kaum tani. Dual hal mendasar inilah yang paling banyak melahiran Pemuda pengangguran diPedesaan,  Putus sekolah  dan buta Aksara.

Selain dari maraknya perampasan Tanah dipedesaan dan Biaya Pendidikan yang terus melambung tinggi, Tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang meluas oleh Pemerintah juga hal yang sangat mempengaruhi makin meningkatnya Pengangguran di Indonesia. Perampasan atas sumber-sumber penghidupan Rakyat dipedesaan dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan menyebabkan Jutaan bahkan Puluhan Juta Rakyat Indonesia harus menjadi Buruh Tani dipedesaan, Buruh Industri di perkotaan bahkan dengan terpaksa harus menjadi Tenaga Kerja diluar Negeri.

Sesungguhnya  berbagai bentuk ketertindasan Rakyat Indonesia saat ini adalah merupaka akibat dari Penindasan dan Penghisapan yang  dilakukan oleh Imperialis melalui Rezim Boneka dalam Negeri yang dibentuknya serta masih kuatnya Monopili atas lahan dipedesaan.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 yang telah diperingati oleh Rakyat Indonesia diseluruh Penjuru Nusantara tanggal 17 Agustus 2009 lalu telah mengingatkan kepada kami akan perjuangan Rakyat Indonesia yang begitu  gigih melawan Kolonialisme Belanda untuk melepaskan diri dari ketertindasannya, serta mempertahankan kemerdekaan tersebut dengan pantang menyerah, namun penghianatan dari segelintir orang “Borjuasi dalam Negeri” saat itu yang telah mengembalikan Rakyat Indonesia kedalam Penindasan bentuk baru “Setengah  Kolonial dan Setengah Feodal” yang tidak kalah kejamnya hingga saat ini.

Atas Pendasaean Tersebut Pada tanggal 18 Agustus FMN  telah melakukan Aksi massa di Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk mengkampanye berbagai Penindasan yang tengah terjadi diIndonesia dan Mengingatkan kepada seluruh Rakyat Indonesia bahwa “ Kita Belum Merdeka” ditandai dengan masih marak dan makin berkembangnya perampasan atas Tanah Petani, masih minimnya Upah Buruh dan sempitnya lapangan pekerjaan bagi Pemuda. Aksi massa ini melibatkan puluhan Orang dari Gabungan Asosiasi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Front Mahasiswa Nasional (FMN). Aksi tersebut Juga member dukungan Atas perjuangan Kaum Tani Takalar Yang dengan Keras Mempertahankan Lahan Yang Di Rampas PT. Nauli Sawit. Dalam Aksi Solidaritas Nasional Peduli TapTeng FMN Bergabung Dengan AGRA, PMKRI, ATKI, PI dan Kontras.

Pada taggal 19 Agustus 2009, FMN  kembali melakukan Aksi Massa bersama Aliansi  Gerakan Reforma Agraria (AGRA),  Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan, Puluhan petani dari Tapanuli tengah Sulaweai Selatan. Kali Ini Aksi Diselenggaakan Di dean Kantor DepNakerTrans, Massa aksi mendesak agar tanah Transmigrasi tidak lagi di usik pihak Perkebunan PT. Mauli Sawit.  Aksi ini adalah merupakan Solidaritas atas Konflik lahan antara Petani Tapanuli Tengah dengan Perkebunan Swasta PT. Nauli Sawit yang telah melakukan Sekutu Jahat dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli untuk melakukan perampasan dan penggusuran secara paksa Ratusan Ha lahan petani yang sudah puluhan tahun menjadi Sandaran Hidup Petani diTapanuli Tengah. Ratusan lahan petani ini meliputi lahan milik penduduk Asli Tapanuli, Penduduk Transmigrasi murni dari daerah lain sejak tahun 80an dan Transmigrasi Lokal.

Konflik Lahan ini sesunggunya telah berlansung selama enam Tahun sejak tahun 2003 hingga sekarang belum mampu diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia. Untuk melakukan Perampasan ini PT. Nauli Sawit bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Telah telah melakukan Intimidasi-intimidasi, Manipulasi, berbagai bentuk Kekerasan, serta penyebaran Fitnah terhadap Petani atas Pembakaram Gudang yang sesungguhnya adalah perbuatan mereka, Akibatnya 10 Orang petani dipenjara hingga saat ini belum dibebaskan.

Massa Aksi juga mendesak Dihentikanya kriminalisasi terhadap Kaum Tani, karena saat ini  10 Orang Petani masih mendekam di penjara. kriminalisasi selalu menjadi cara Para tuan tanah dan pengusaha besar untuk menyumbat berkembangnya gerakan tani, Tapi Upaya pemenjaraan, kekerasan maupun Intimidasi tersebut sama sekali tidak menyurutkan Kaum Tani. MAJU TERUS PERJUANGAN MASSA!!!

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s