Buta Aksara Meninggi, Pemerintah Lari (Pandangan Atas Peringatan Ke-49 Hari Buta Aksara Sedunia)

P9060145Pada bulan September tiap tahunnya paling tidak ada 2 momentum yang patut kita peringati, pertama adalah Hari Tani Nasional (HTN) dan yang kedua adalah Hari Aksara Internasional. HTN adalah harinya kaum tani yang Berhasil mendesak Presiden Sukarno Mengeluarkan UUPA No.5 Tahun 1960, selanjutnya HTN di Sahkan secara Nasional lewat Kepres No 169 tahun 1963. sementara hari buta aksara adalah momentum yang di peringati oleh seluruh rakyat di dunia, setelah seluruh Pemerintah di berbagai belahan bumi membangun komitmen untuk Memusnahkan Buta Aksara. Moment besar tersebut sangatlah istimewa bagi rakyat Indonesia, karena Sesungguhnya dua momentum tersebut jika kita lihat dengan kondisi obyektif saat ini sangatlah erat hubungannya. HTN adalah peringatan dan penghormatan atas perjuangan kaum tani Indonesia yang sama sekali tidak pernah lelah merebut segala haknya atas Tanah dan Sumber-sumber Agraria di Negeri ini. Sementara hari buta aksara Internasional lahir atas kesepakatan di Teheren, Iran tahun 1965 dalam kongres antar menteri pendidikan se dunia untuk membrantas buta huruf atas dasar kenyataan saat itu bahwa 40% penduduk dewasa dunia adalah penyandang buta aksara.


Akan tetapi setelah puluhan tahun momentum HTN dan Hari Aksara Internasional di tetapkan, Kesejahteraan bagi puluhan juta kaum tani tidaklah terwujud, selain itu jutaan rakyat Indonesia saat ini masih berada dalam keterbelakangan budaya akibat belenggu buta aksara yang di sandangnya. Jika pada tahun 1960, lewat Menteri Syarief Thayeb Indonesia mampu mengklaim dirinya sebagai Negara yang terbebas dari Buta aksara atau semua penduduknya mampu membaca dan menulis, Maka pada tahun 2009 ini atau 49 tahun kemudian Indonesia justru menemukan sekitar 15,04 Juta penduduk Indonesia sebagai penyandang buta aksara, Sebuah Degradasi Yang cukup Fantasis.
Buta Aksara Penyakit Disebabkan Hancurnya Sistem Pendidikan di Indonesia.
Ironisnya dari sekitar 15,04 juta penyandang buta aksara tinggal di pedesaan yang di dominasi oleh kaum tani. Selain itu buta aksara juga di dominasi oleh kaum perempuan yaitu sebanyak 64 % dari total angka buta aksara, saat ini ada lima propinsi yang memiliki angka buta aksara yang cukup tinggi yaitu : Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi selatan dan Nusa tenggara Barat yang mencapai 70 % dari total buta aksara di Indonesia.
Menurut Dirjen Pendidikan Non Formal dan informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hammid Muhammad ada beberapa factor penyebab tingginya buta aksara antara lain, Tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. Melihat factor-faktor yang dibeberkan Dirjen PNFI tersebut terlihat jelas bagaimana kinerja Pemerintah dalam hal ini SBY-Kalla atas kebijakan system pendidikan nasional sangat buruk, atau bisa dikatakan gagal. bagaimanapun juga sumbangan terbesar atas buta aksara yang di sandang oleh rakyat adalah factor pendidikan dan kebudayaan yang di jalankan oleh pemerintah yang ternyata tidak mampu menuntaskan problem keterbelakangan budaya rakyat Indonesia.
Saat ini ditengah krisis umum Imperialisme, dan penghisapan yang kian hebat menimpa rakyat Indonesia paling tidak 1 juta anak Indonesia terancam putus sekolah dasar. dalam waktu 6 tahun ini dari sebanyak 25.729.254 anak sekolah dasar 761.366 diantarnya mengalami putus sekolah pertahunnya, dan dipastikan akan terus bertambah. Menurut penelitian UNESCO, seseorang akan kembali menjadi buta huruf jika selama 4 tahun tidak menggunakan kemampuan baca tulisnya.hal ini jika putus sekolah terjadi saat di sekolah dasar terutama yang duduk di kelas 1 sampai 11 pendidikan dasar. apalagi dengan ancaman DO 1 Juta anak akibat harus membantu orang tuanya bekerja di tengah himpitan beban akibat krisis yang kian hebat.
Buta aksara tidaklah lahir terpisah atas dengan system pendidikan Indonesia, Buta Aksara justru dilahirkan atas buruknya system pendidikan yang di terapkan oleh pemerintahan Indonesia. Lebih luas lagi buta aksara lahir atas kebobrokan system yang selama ini di jalankan oleh rejim boneka di Indonesia. Buta aksara di Indonesia tidak akan pernah hilang jika akses pendidikan bagi rakyat masih terbatas, ataupun pendidikan di Indonesia masih mahal mencekik leher. problem sulitnya geografis Indonesia bukanlah alasan, karena jika komitment pembangunan system pendidikan dengan alokasi anggaran 20 % dari APBN (terpisah dari gaji guru dan dosen) dilaksanakan dengan birokrasi yang tidak koruptif dan manipulative. karena buta aksara baru yang lahir adalah hasil dari kemiskinan rakyat sehingga kemampuan akses pendidikan juga sangat kecil. Sehingga bagaimana pun juga buta aksara tidak akan begitu saja mudah di berantas jika Pemerintahan Indonesia masih anti rakyat, atau selama rejim yang berkuasa selalu memperdagangkan (mengkomersilkan) Pendidikan.
Saat ini mayoritas rakyat Indonesia hanya berpikir bagaimana bisa hidup atau makan, sebagai akibat dari penghidupan yang kian berat ditengah terjangan berbagai krisis yang ada, sehingga apapun caranya akan dilakukan untuk mempertahankan hidup termasuk mengorbankan pendidikan yang memang sudah sangat mahal.
Monopoli Atas Kepemilikan Tanah dan Perampasan Tanah Kaum Tani Menyebabkan Buta Aksara di Pedesaan Begitu Tinggi.
Inilah yang mengakibatkan kenapa buta aksara jumlahnya begitu besar di pedesaan, karena di pedesaan, imbas krisis akan lebih terasa beratnya. Bagaiamana mungkin di pedesaan akan mampu terbebas dari buta huruf jika akses atas pendidikan sangat terbatas,akses ini meliputi soal biaya yang mahal, infrastruktur yang sama sekali tertinggal atau kualitas dan kuantitas tenaga pengajar yang minim. seorang anak petani miskin atau buruh tani akan lebih memilih tidak sekolah atau putus sekolah jika di hadapkan pada kenyataan jika harus sekolah maka biaya yang di keluarkan tidak sedikit ataupun jarak sekolah yang jauh yang akhirnya untuk biaya transportasi hampir sama dengan pendapatan seorang buruh tani yang bekerja sehari dengan upah antara Rp 15.000-18.000.
Sementara di Indonesia Jutaan kaum tani adalah berstatus petani miskin atau buruh tani yang perpenghasilan rendah. Bagaimana kaum tani dan generasi masa depannya mampu terbebas dari buta aksara jika sekolah tetap saja mahal, bahkan untuk pendidikan dasar sekalipun, jika gembar-gemor pemerintah mengadakan pendidikan dasar gratis, maka terlihat jelas kebohongannya. memang benar bahwa biaya sekolah gratis, tetapi bagiamana dengan berbagai pungutan, uang seragam, kewajiban beli buku yang pada kenyataannya lebih menguras biaya. Hal ini belum di hitung dengan kebutuhan transportasi yang jauh dan infrastruktur sekolah di daerah yang apa adanya.
Mensejahterakan dan memperbaiki kehidupan kaum tani tidak bisa dilakukan tanpa melakukan penghapusan monopoli kepemilikan atas tanah. karena monopoli atas tanah inilah yang menyebabkan kehancuran kehidupan kaum tani, hal inilah yang juga menyebabkan kaum tani dan anak-anaknya tidak pernah mampu menghapuskan dirinya dari keterbelakangan budaya, termasuk di dalamnya akses atas pendidikan yang seringkali bagi kaum tani bukalah kebutuhan utama dan berada di bawah kebutuhan untuk makan. sementara penghapusan monopoli atas tanah tidaklah akan bisa dilakukan tanpa perjuangan yang kuat terutama dari kaum tani itu sendiri yang didukung oleh perjuangan dari klas dan golongan lain termasuk di dalamnya pemuda mahasiswa dan seganap kekuatan demokratik yang menginginkan terwujudnya tatanan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat.

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s