FPR News: Konferensi Pers Front Perjuangan Rakyat Sebagai Rangkaian Kampanye Peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional 2010.

Melalui Acara Konferensi Pers (Kamis,25/11) FPR Menyampaikan Pandangan dan Sikapnya atas Berbagai Problem Rakyat yang tidak Mencerminkan Tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Oleh Koordinator FPR (Rudi HB. Daman) disebutkan beberapa Rangkaian Kegiatan yang akan digelar Oleh FPR dalam Momentum Hari Hak Asasi Manusia Internasional 2010 di Tingkat Nasional dan FPR yang tesebar diberbagai Daerah dan beberapa Negara di Luar Negeri. Dalam Konferensi Pers tersebut FPR juga Menyampaikan Sikap dan Kecamannya terhadap Pemerintah Atas kekerasan yang dihadapi oleh Rakyat diberbagai daerah, khususnya Kasus Penembakan Petani di Jambi, Penggusuran di Lampung, Lombok Timur dan Kasus Penganiayaan BMI (Sumiyati dan Kikim Komalasari) di Arab Saudi.

 

Hidup Rakyat Indonesia…!!

Jayalah Perjuangan Rakyat…!!

Salam Demokrasi…

Front Perjuangan Rakyat yang menghimpun Berbagai Organisasi dari Sektor Buruh, Tani, Pemuda Mahasiswa, Perempuan, Buruh Migrant, NGO dan berbagai Organisasi Rakyat lainnya, Terus menjalankan berbagai Aktifitas dan Kegiatan Untuk Memperingati Hari HAM 2010. Hari Kamis tanggal 25 November lalu, Front Perjuangan Rakyat (FPR) juga telah Menyelenggarakan Konferensi Pers sebagai Rangkaian Kegiatan Kampanye Hari Hak Asasi Manusia yang akan di Puncaki pada tanggal 10 Desember 2010 mendatang.

Dalam Acara konferensi Pers yang diselenggarakan oleh FPR tersebut dimeriahkan dengan penampilan Theaterikal dari Buruh Migran (ATKI & IMWU) yang menggambarkan soal jeratan Ekonomi rakyat Indonesia yang memaksanya harus bekerja keluar Negeri menjadi Tenaga Kerja tanpa ada jaminan Kesejahteraan dan Keselamatan.

Konferensi Pers yang telah diselenggarakan tanggal 25 lalu selain untuk Menyampaikan Pandangan, Sikap dan Menyiarkan berbagai bentuk Kegiatan yang akan dijalankan oleh FPR, Konfernsi Pers tersebut sekaligus sebagai salah satu Upaya perjuangan FPR untuk Mengabarkan kepada seluruh Rakyat Indonesia dan Mengecam Tindak kekerasan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam kasus penembakan Petani di Jambi yang mengakibatkan satu warga (Petani) Meninggal Dunia karena tertembak dibagian Kepala, kemudian kasus serupa (Kasus Penggusuran di Lampung) dan, Lombok Timur serta mengecam Tindak Kekerasan atas Kasus penganiayaan terhadap BMI (Sumiyati dan Kikim Komalasari) di Arab Saudi.

Dalam Acara Konferensi Tersebut dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari Media, Anggota Organisasi yang tergabung dalam FPR dan massa luas yang diundang secara terbuka lainnya. Penyampaian Pandangan dan Sikap dalam Acara Siaran Pers dan tanya jawab tersebut lansung dipimpin oleh Koordinator FPR (Rudi HB. Daman) dan diDampingi oleh Perwakilan beberapa Sektor yang tergabung dalam FPR yaitu: Cecep (Perwakilan dari Serikat Buruh ”GSBI”), Rahmat Ajiguna (Perwakilan Tani ”AGRA”), Retno Dewi & Sringatin (Perwakilan BMI” ATKI&IMWU”) dan, Hary Sandy Ame (Perwakilan Pemuda Mahasiswa). Masing-masing Pemateri Menyampaikan berbagai Bentuk Pelanggaran HAM di Masing-masing Sektor.

Perwakilan dari Serikat Buruh ”Bung Cecep” menerangkan bahwa Problem pokok yang marak dihadapi oleh Buruh saat ini adalah soal Ancaman PHK yang bisa datang setiap Saat, Upah murah dan berbagai variasi Pemotongan Upah yang dilakukan oleh Perusahaan melalui kebijakan-kebijakan Pemerintah yang sesungguhnya telah Melegalkan praktek tersebut, Praktek inilah senyata-nyatanya dampak dari ”Politik Upah Murah” yang djalankanoleh Pemerintah saat ini. Selain problem Tersebut, Bung Cecep juga Menyampaikan bahwa Buruh juga tengah dihadapkan dengan upaya pemberangusan gerakan perlawanan Buruh dengan Menggunakan Serikatnya (Union Busting).

Selanjutnya, Bung Rahmat selaku Perwakilan dari Organisasi Tani (AGRA) dalam Presentasinya menyebutkan beberapa Problem Pokok yang dihadapi oleh Kaun Tani di Indonesia yaitu, Persoalan Maraknya Perampasan Tanah Rakyat diberbagai daerah baik yang dilakukan oleh Swasta melalui Perusahaan Korporasi milik Borjuis besar Komprador yang bekerjasama lansung dengan Imperialis, juga dilakukan oleh Negara melalui Taman Nasional, PTPN, PERHUTANI, INHUTANI dan TNI. Monopoli atas tanah tersebut ”Bung Rahmat Melanjutkan” digunakan untuk perluasan lahan Perkebunan, Lahan Pertanian terutama untuk Perkebunan Karet, Sawit dan berbagai tanaman Komoditas lainnya. Monopoli tanah tersebut terus diperluas dengan jumlah yang semakin besar dan tersebar ke Berbagai daerah diseluruh Nusantara.

Problem Monopoli atau Perampasan atas tanah tersebut Ironisnya dilakukan selalu dengan kekerasan (Refressifitas) yang tidak sedikit menyebabkan jatuhnya Korban dari pihak Petani (Bung Rahmat Menyebutkan beberapa data kekerasan terhadap Petani). Kekerasan terhadap Petani yang dilakukan oleh Pemerintah tersebut dengan menggunakan Aparat Kepolisian atapun TNI. Hal tersebut dibuktikan dengan Kasus terbaru yang terjadi di Jambi (Penembakan Petani), Penggusuran di Lampung dan di Lombok Timur. Situasi-situasi tersebut telah membuktikan bahwa Rezim hari ini (SBY-Boediono) adalah Rezim yang sangat anti terhadap Rakyat dan tak segan-segan menjadikan Rakyat sebagai Tumbal dari segala Kepentingannya demi melayani dan memenuhi kehendak Tuan Imperialisnya.

Oleh Retno Dewi dan Sringatin, dilanjutkan dengan Pemaparan berbagai kasus yang dihadapi oleh Buruh Migrant Indonesia. Buruh Migrant Indonesia terus dihisap sejak keberangkatannya hingga kepulangannya kembali ke Indonesia. Sebelum Diberangkatkan keluar Negeri, BMI tidak pernah diberitahukan Hak-haknya yang harus dipenuhi Negara Tujuan (Tempat Bekerjanya), mereka hanya diberitahukan bagaimana harus bersikap sopan dan Bagaimana Dia harus memberikan Pelayanan terbaiknya terhadap Majikannya.

Selain terancam berbagai Tindak Kekerasan yang dilakukan oleh Majikan atau Bos ditempat kerjanya ”Karena memang tidak ada jaminan Keselamtan yang diberikan oleh Pemerintah” , BMI juga dihadapkan dengan Biaya penempatan yang tinggi (Over Charging). Tingginya Biaya penempatan tersebut harus ditanggung oleh BMI melalui Pemotongan upahnya yang dilakukan selama 8, 12 hingga 15 Bulan. Ironisnya, Setelah bekerja delapan atau lima belas bulan (Masa potongan berakhir), BMI sebagian besar dihadapkan dengan pemecatan/Pemutusan Kontrak oleh Agent dengan alasan ketrampilan Kerja dan lain sebagainya. Padahal sebagaian Besar BMI berangkat menggunakan Hutang atau menggadai bahkan menjual sawahnya, namun dengan situasi demikian tentunya BMI tidak akan mampu mengembalikan hutang atau tanah yang telah digadaikan sebelumnya, sehingga mau-tidak mau BMI tersebut harus membuat kontrak baru dengan Agent didalam ataupun diluar Negeri hingga mendapatkan pekerjaan baru. Meskipun demikian, BMI tetap akan dihadapkan kembali dengan Pemotongan Upah selama beberapa Bulan tertentu.

Selanjutnya dari sektor Pemuda Mahasiswa yang diwakilkan oleh Bung Sandy, Disampaikan secara singkat beberapa problem disektor pendidikan diantaranya: Problem Kommersialisasi pendidikan yang ditunjukkan dengan kenyataan bahwa semakin meningkatnya biaya pendidikan disetiap jenjang pendidikan. Di Perguruan tinggi Sendiri biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh peserta didik mulai dari Ratusan ribu hingga Belasan juta rupiah, bahkan beberapa perguruan tinggi ternama dengan Jurusan tertentu biaya pendidikannya sudah menunjukkan Angka yang mencapai Ratusan juta rupiah.

Sandy Melanjutkan, Mahalnya biaya Pendidian tersebut telah menyebabkan hilangnya kesempatan bagi rakyat untuk dapat mengenyam pendidikan, terutama anak buruh dan Kaum tani. Tentu saja Angka Belasan juta tersebut adalah angka yang tidak sedikit dan mungkin dapat dipenuhi oleh Keluarga buruh dan Tani dengan pendapatan yang sangat rendah (Wilayah Jabodetabek berkisar sekitar 1,3 Juta Rupiah) dan terus menurun. Selain Persoaln Biaya dan jaminan lapngan Pekerjaan, pemuda Mahasiswa jug dihadapkan dengan berbagai Bentuk diskriminasi dan Tindakan refressif didalam Kampus, mulai dari Intimidasi, ancaman DO atau Skorsing, pemukulan, penangkapan bahkan sampai pada Pembunuhan Mahasiswa (Kasus Terbunuhnya M. Ridwan Mahasiswa IKIP Mataram).

Sesungguhnya Problem Pemuda dan Mahasiswa tersebut tidak terlepas dari persoalan-persoalan rakyat lainnya, Misalkan dengan Problem Pokok Kaum Tani yang terus kehilangan Lahannya, Problem buruh yang terus diPangkas upahnya dengan berbagai Kebijakan yang ditetapkan Pemerintah. Namun dapat disimpulkan Bahwa Problem Pemuda Mahasiswa adalah Persoalan Mahalnya biaya pendidikan yang berdampak terhadap Akses rakyat yang semakin sempit atas pendidikan atau Ancaman putus Sekolah atau Kuliah karena persoalan Biaya dan tidak adanya jaminan lapangan Pekerjaan setelah selesai dari Pendidikan yang ditempuhnya.

Setelah Presentasi dari Masing-masing Sektor, Koordinator FPR (Rudi UB. Daman) menambahkan bahwa Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Rakyat Indonesai saat ini adalah Persoalan yang Komplek, hal demikian adalah dampak atau wujud kongkrit penindasan yang tidak akan hilang di Negara Setengah Jajahan dan Setengah Feodal (SJSF) seperti Indonesia. Atas dasar itulah Front Perjuangan Rakyat (FPR) Mengambil Inisiatif untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional 2010 saat ini dengan berbagai Rangkaian Acara yang akan diselenggarakan di FPR tingkat Nasional sampai beberapa Daerah di dalam Negeri dan beberapa Kota di Luar Negeri. Tentunya untuk memeriahkan peringatan hari HAM kali FPR juga mengundang dan mengajak seluruh kalangan dan Rakyat tertindas lainnnya untuk bergabung bersama FPR Mengkampanyekan berbagai Problem rakyat sekaligus menuntut penegakan HAM di Indonesia.

Selanjutnya setelah Acara ini ”Lanjut Bung Rudy”, FPR akan menyelenggarakan Kuliah Umum, Panggung Kebudayaan dan Testimuni dan Karnaval HAM yang akan diselenggarakan pada puncak Kampanye HAM tanggal 10 Desember 2010.

Demikian Report Kegiatan Konferensi Pers FPR Memperingati hari HAM Intrnasional 2010 dan menyikapi kasus penembakan Petani di Jambi dan tindakan kekerasan atas penyiksaan terhadap BMI (Sumiyati dan Kikim Komalasari).

Kontributor: Rudi HB. Daman (Koordinator FPR)

Dilaporkan Oleh: Harry Sandy Ame

Kamis, 25 November 2010

 

FRONT PERJUANGAN RAKYAT (FPR)

Jalan Cempaka Baru V No 30A RT 001/07 Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat

Kontak Person : Rudi HB Daman +6281808974078, Harry Sandy Ame +6281999431816

Website : https://fprsatumei.wordpress.com, email : fpr1mei@gmail.com

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s