Press Release: Lawan Segala Bentuk Kekerasan di Hari Kasih Sayang, Galang Persatuan-Ciptakan Perdamaian

HAPPY VALENTINE DAY14 February 2011

“Lawan Segala Bentuk Kekerasan di Hari Kasih Sayang

Galang Persatuan-Ciptakan Perdamaian”

 Salam Demokrasi!

Kenyataan Objektif perkembangan Dunia saat ini, ditengah situasi krisis umum Imperialisme yang semakin tajam, Penderitaan Rakyat atas jeratan ekonomi dan berbagai kesenjangan lainnya dalam Masyarakat terus diwarnai dengan berbagai tindak kekersan terhadap Rakyat diseluruh Dunia.

Berbagai Sektor tidak terlepas dari dampak krisis global yang terus digencarkan oleh Imperialis dengan melibatkan seluruh Negara yang berada dibawah dominasinya untuk ikut bertanggungjawab dalam upaya penyelesaian krisis tersebut. Situasi tersebutpun telah menciptakan kegelapan bagi kehidupan dan masa depan rakyat diseluruh Dunia. Kemiskinan masih menjadi masalah utama rakyat didunia, sementara kekayaan dan kemakmuran hanya terkosentrasi di sedikit negara saja. Kekerasan dalam berbagai bentuknya, peperangan dan penghilangan bagi hak-hak politik Rakyat. Berbagai upaya Rakyat diseluruh dunia dalam memperjuangkan haknya terus dihadapi dengan berbagai tindak kekerasan bahkan dalam beberapa waktu terakhir kenyataan atas berbagai tindak kekerasan tersebut menunjukkan peningkatan yang significant baik di Eropa, Timur Tengah hingga kewilyah Asia dan tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia Sendiri, Rakyat terus dihadapkan dengan berbagai tindak kekerasan dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus ataupun persoalan-persoalannya. Gerakan buruh yang selain dihapadkan dengan pemotongan upah juga tidak terhindar dari tindak kekerasan sebagai upaya pemerintah untuk memberangus gerakan buruh, pin demikian dengan buruh Migrant, kasus kikim Komala sari dan Sumiati beberapa bulan lalu sebagai contoh yang kongkrit atas tindak kekerasan terhadapp Buruh Migrant dan, pastinya Rakyat pekerja disektor lainnya juga dihadapkan dengan persoalan yang sama. Disektor Pertanian Justeru kenyataan tersebut lebih massif dilakukan baik oleh Perusahaan swasta maupun pemerintah melalui Aparat polisi dan TNI yang sebagai alat kuasanya. Masih teringat jelas pada bulan Januari terjadi penembakan terhadap petani di Kecamatan Sanyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi yang terjadi akibat konflik antara petani dan PT. Wira Karya Sakti yaitu anak perusahaan dari Sinar Mas Group, menyusul kemudian hal serupa juga terjadi di Kampung Mendapo Jambi, lampung dan diberbagai daerah lainnya.

Fakta kekerasan di Indonesia juga tak dapat dihindarkan oleh Pemuda mahasiswa disektor Pendidikan. Pemuda mahasiswapun dalam menuntut hak-haknya acap kali dihadapkan dengan berbagai Tindak kekerasan mulai dari penangkapan, pemukulan bahkan pembunuhan. Bebrapa waktu terakhir, di Kupang-NTT, pemuda mahasiswa yang menggelar aksi menyambut kedatangan SBY juga telah dihadapkan dengan kasus yang sama. Oleh Aparat kepolisian, hampir puluhan Pemuda mahasiswa terkena pukulan.

Tindakan Repressive dan berbagai tindakan kekerasan semaki marak mewarnai perkembangan situasi politik dalam negeri Akhir – akhir ini, bahkan Secara beruntun kekerasan mengatasnamakan agama terjadi di Pandeglang, Banten dan Temanggung Jawa Tengah. Sangat disesalkan aparat keamanan seolah diam terhadap dua aksi kekerasan ini. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa Pemerintah sangat mengabaikan aspek perlindungan bagi rakyatnya, bahkan kenyataan tersebut membuktikan bahwa pemerintah memang tidak pernah meperdulikan rakyatnya. Padahal Sesungguhnya, Di negeri hukum seperti Indonesi (Dengan Alasan apapun) sangat tidak dibenarkan akan adanya tindakan kekerasan baik yang yang dilakukan oleh Individu, kelompok ataupun Agama. Ironisnya, Negara justeru mengabaikan hal tersebut bahkan kenyataannya Negara juga seringkali melakukan tindak kekerasan terhadap Rakyat dalam menyelesaikan berbagai kasus rakyat.

Pemerintah seolah lepas dari tanggung jawab terhadap aksi kekerasan di negeri ini Bahkan dengan Piciknya, sebagai upaya untuk menumpulkan, memecah belah persatuan bahkan untuk memberangus gerakan rakyat, Pemerintah mengkambinghitamkan gerakan rakyat sebagai pemicu berbagai tindak kekerasan yang terjadi di Indonesia. Kenyataan tersebut telah semakin memperterang watak asli dari Rezim hari ini, yaitu Rezim kepala batu anti demokrasi dan anti rakyat, rezim yang sama sekali tidak memberikan ruang demokrasi bagi rakyat dengan jaminan kebebasan berkumpul dan berserikat seperti yang tercantum dalam konstitusi negara ini. Padahal peran dan tanggungjawab negara sangat penting untuk menciptakan ruang – ruang tanpa kekerasan dalam kehidupan masyarakat dengan memberikan jaminan perlindungan bagi rakyat.

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi diseluruh dunia saat ini seolah menjadi sebuah hal yang biasa, namun jika tidak ada tindakan serius dari pemegang kekuasaan untuk menghentikan berbagai tindak kekerasan, maka rakyat yang terus menerus akan menjadi korban. Yang harus disadari bahwa, ditengah kehidupan Rakyat yang semakin merosot saat ini, Bangkitnya gerakan Rakyat tidak akan pernah dapat dihentikan dan selalu menjadi Ancaman bagi Rezim penguasa yang anti terhadap Rakyat.

Momentum peringatan hari kasih sayang (Vakentine’s Day), bukan hanya dianggap sebuah peringatan yang terbatas pada ungkapan perasaan terhadap pasangan. Namun secara labih luas, peringatan ini memiliki makna bagi kita untuk memberikan kasih sayang terhadap sesama manusia, tanpa adanya batasan suku, agama, ras maupun golongan. Momentum ini merupakan sebuah momentum yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan kampanye melawan berbagai kekerasan yang terjadi belakangan ini.

Berdasarkan pandangan diatas, Front Perjuangan Rakyat (FPR) yang merupakan sebuah aliansi multisektoral yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti buruh, tani, pemuda mahasiswa, perempuan, organisasi sosial maupun Individu, Mengecam dan Mengutuk keras berbagai tindak kekerasan yang terjadi di Indonesia, baik yang dilakukan oleh Negara, Individu ataupun Kelompok tertentu yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Berkaitan dengan hal Tersebut Front Perjuangan Rakyat (FPR) Menuntut:

1. Mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Mesir untuk mendapatkan kedaulatannya.

2. Meminta negara menghentikan represifitas dan segala bentuk kekerasan terhadap rakyat

3. Pemerintah bertanggungjawab atas berbagai kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia

4. Pemerintah harus mengusut tuntas berbagai kasus kekerasan yang terjadi (penembakan petani, Kasus Ahmadiyah dan Kasus Temanggung serta berbagai kasus kekerasan lainnya)

5. Pemerintah harus memberikan jaminan perlindungan bagi Seluruh Rakyat Indonesia

6. Pemerintah harus memberikan jaminan untuk berserikat/berorganisasi dan mengeluarkan pendapat dimuka umum bagi rakyat.

7. Hentikan Perampasan Upah, Tanah dan Kerja

8. Menyerukan kepada Seluruh Rakyat Indonesia untuk memperkuat Persatuan dan berjuang bersama Menciptakan perdamaian dengan Berjuang Menegakkan Hak Asasi Manusia dan Melawan segala Bentuk kekerasan.

Demikian Pernyataan sikap ini kami buat dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melawan segala bentuk kekerasan yang terjadi di Indonesia.

 

Hidup Rakyat Indonesia!!

Jayalah Perjuangan Rakyat!

 

Jakarta, 14 Februari 2011

Front Perjuangan Rakyat (FPR)

Rudi HB Daman

Koordinator

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s