KAA Dahulu, Kini dan Tugas Gerakan Rakyat Asia Afrika Hari ini, BAGIAN (3)

imagesKAA Dahulu, Kini dan Tugas Gerakan Rakyat Asia Afrika Hari ini, BAGIAN (3)

Peringatan 60 tahun KAA, 10 tahun NAASP, World Economic Forum on East Asia dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Pemerintahan Jokowi-JK

Dua kota di Indonesia, Jakarta dan Bandung telah dipilih untuk menjadi tempat bagi penyelenggaraan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Jakarta akan menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan Pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting) pada 19 April 2015, Pertemuan Tingkat Menteri (Asian African Ministerials’ Meeting) pada 20 April 2015, dan Pertemuan Tingkat Kepala Negara (Asian African Summit) pada 22-23 April 2015. Rangkaian acara ini juga akan diisi dengan Asia Africa Business Summit sebagai acara pendamping pada 21-22 April 2015, sebelum seluruh peserta menutup rangkaian kegiatannya dengan menggelar 60th Commemoration of Asian African Conference di Bandung pada 24 April 2015.

Tema yang diangkat dalam peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) dan peringatan 10 tahun Kemitraan Strategis Asia Afrika Baru (NAASP) adalah “Penguatan Kerjasama Selatan-Selatan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia”. Sebagai tuan rumah, pemerintah Indonesia mengharapkan forum ini dapat menjembatani negara-negara Asia dan Afrika dalam mengejar kemitraan yang lebih kuat dan sarana berbagi pengalaman dalam meningkatkan pembangunan ekonomi kedua kawasan. Sekaligus menjadi kesempatan untuk membahas solusi dan cara mengatasi tantangan bersama melalui penguatan kerjasama Selatan-Selatan dalam meraih perdamaian dan kemakmuran.

Sebagaimana agenda-agenda pertemuan internasional lainnya, penyelenggaran peringatan 60 tahun KAA dan 10 tahun NAASP diharapkan juga menghasilkan dokumen resmi sebagai hasil konferensi. Pertama adalah deklarasi Bandung Message, kedua dokumen tentang penghidupan kembali NAASP (Declaration of Reinvigorating the New Asian-African Strategic Partnership) dan ketiga, deklarasi mengenai dukungan negara-negara Asia-Afrika untuk Palestina (Declaration on Palestine).

Ketika KAA diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 1955, rakyat di Asia dan Afrika memang dipersatukan dalam semangat yang sama yaitu anti-kolonialisme, karena sebagian besar negara-negara di Asia dan Afrika baru merdeka atau terbebas dari penjajahan. Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu kekuatan imperialisme berusaha untuk menggagalkan penyelenggaraan KAA. Kini, setelah 60 tahun sejak pertama kali KAA digelar pada 1955, mayoritas negara-negara di kawasan Asia-Afrika masih tetap berstatus sebagai negara setengah jajahan, dimana mereka tunduk dan patuh dibawah kepentingan imperialisme, khususnya AS. Usaha-usaha imperialisme untuk memperlemah semangat anti-kolonialisme yang menjadi spirit dalam KAA juga terus menerus dilakukan. Upaya ini pada akhirnya dapat terbaca dalam dokumen Kemitraan Strategis Asia-Afrika Baru (NAASP) yang dideklarasikan 10 tahun silam pada peringatan 50 tahun KAA.

NAASP adalah pengkhianatan semangat anti-kolonialisme yang tertuang dalam Dasa Sila Bandung. Di dalam deklarasi NAASP, kerjasama yang lebih erat di bidang ekonomi menjadi isi utama dan menjadi tekad negara-negara Asia-Afrika. Beberapa implementasi dari kerjasama ekonomi ini antara lain; Tokyo International Conference on African Development (TICAD), China-Afrika Cooperation Forum (CACF), India-Africa Cooperation, Pusat Kerjasama Teknik Selatan-Selatan yang disponsori Indonesia dan Brunei Darussalam, Vietnam-Africa Business Forum, serta program untuk penghapusan kemiskinan, pembangunan sosio-ekonomi, dan pertumbuhan yang tertuang dalam New Partnership for Africa’s Development (NEPAD). Di bagian penutup deklarasi NAASP ini disebutkan tentang perlunya memajukan kerjasama nyata diantara kedua benua di bidang-bidang seperti perdagangan, industri, investasi, keuangan, tourisme, teknologi komunikasi dan informasi, energi, kesehatan, transportasi, pertanian, sumber daya air dan perikanan.

Tidaklah mengherankan jika imperialisme, khususnya AS memiliki kepentingan besar atas negara-negara Asia-Afrika dan KAA. Jumlah penduduk di Asia-Afrika yang melebihi ⅔ dari total populasi penduduk dunia adalah pangsa pasar yang strategis bagi negeri imperialis seperti AS untuk memasarkan seluruh barang hasil produksi industri mereka, termasuk bagi pemenuhan cadangan tenaga kerja yang murah. Negara-negara Asia-Afrika adalah sumber cadangan energi sekaligus sumber pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi industri mereka. Inilah motif utama, kenapa AS sangat getol untuk terlibat dalam KAA meskipun secara geografis negaranya tidak masuk dalam kawasan Asia-Afrika.

Rangkaian agenda KAA di Jakarta juga digelar beriringan dengan pelaksanaan World Economic Forum on East Asia (Forum Ekonomi Dunia Asia Timur) yang berlangsung pada 19-21 April 2015. Tema yang diusung dalam forum kali ini adalah “Anchoring Trust in East Asia’s New Regionalism”, dimana 690 CEO perusahaan-perusahaan internasional dan pemimpin pemerintahan dari berbagai negara di kawasan Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korsel, Australia dan Selandia Baru memastikan hadir dalam forum ini. Pemerintah Indonesia sendiri melalui forum ini telah menargetkan investasi baru sebesar USD 30 juta.

Indonesia saat ini memang tengah digadang-gadang oleh imperialisme AS sebagai salah satu negara yang berhasil dalam melaksanakan program pembangunan ekonomi dan demokrasi. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sebagai anggota G-20 dan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, Indonesia tengah dipromosikan untuk dapat mengambil peranan memimpin dalam berbagai forum pertemuan internasional. Salah satunya adalah mendorong Indonesia menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan event regional maupun multilateral.

Penyelenggaraan KAA 2015 dalam hal ini sinergis dengan Agenda Pembangunan Nasional yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 Pemerintahan Jokowi-JK, bahwa dalam rangka memperkuat peran dalam kerjasama global dan regional, sasaran yang ingin diraih diantaranya; Meningkatnya pelaksanaan kerjasama pembangunan Selatan-Selatan dan Triangular; Meningkatnya peran Indonesia dalam forum multilateral seperti misalnya WTO, Kerjasama Pembangunan Selatan-Selatan dan Triangular (KSST), Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC), dan Asia-Europe Meeting (ASEM). Strategi yang coba ditempuh dalam hal ini adalah memperkuat diplomasi serta intervensi kebijakan.

Dari uraian diatas, sesungguhnya terang bahwa KAA telah sejak lama kehilangan semangat anti-kolonialisme yang menjadi pemersatu negara-negara Asia-Afrika 60 tahun yang silam. Deklarasi untuk tidak melakukan campur tangan terhadap bangsa lain, tidak melakukan intervensi, agresi terhadap bangsa lain hanya menjadi sebuah kesepakatan yang sangat berbeda dalam implementasinya. Kenyataannya, negara-negara Asia-Afrika saat ini mayoritas tidak ada yang memiliki kemerdekaan sejatinya, atau menjadi negeri setengah jajahan. Imperialisme dibawah pimpinan AS telah menancapkan dominasi ekonomi, politik, kebudayaan bahkan militer terhadap negara-negara Asia-Afrika.

Kembalikan KAA untuk menghidupkan semangat perjuangan rakyat Asia-Afrika melawan intervensi dan agresi imperialisme Amerika Serikat (AS)

Berdasarkan situasi obyektif yang telah dipaparkan diatas, bahwa intervensi dan agresi yang dilakukan oleh imperialisme dibawah pimpinan AS terhadap negara-negara di Asia dan Afrika adalah penjajahan sesungguhnya yang membelakangi semangat Dasa Sila Bandung hasil KAA 1955. Cengkraman imperialisme AS atas negara-negara di Asia-Afrika di seluruh aspek kehidupan telah menghadirkan penderitaan yang memerosotkan penghidupan rakyat. Atas situasi demikian, semangat anti-kolonialisme, yang menjadi kerangka besar penyelenggaraan KAA 1955, hingga hari ini adalah sebuah perjuangan yang belum usai. Kolonialisme atau penjajahan masih tetap ada dalam bentuk dan skema yang terus diperbarui.

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) dan 10 tahun Kemitraan Strategis Asia-Afrika Baru (NAASP) yang akan diselenggarakan pada 19-24 April 2015, harus menjadi momentum bagi seluruh rakyat untuk menyuarakan aspirasi dan perlawanannya terhadap dominasi imperialisme pimpinan AS. Perjuangan pokok bagi rakyat Asia-Afrika dalam peringatan KAA ini adalah menentang seluruh skema besar imperialisme AS yang mempunyai keinginan menguasai seluruh kekayaan alam dan miliaran penduduk Asia-Afrika melalui kerjasama-kerjasama multilateral. Seluruh skema imperialisme AS atas negara-negara di Asia-Afrika adalah faktor penghambat bagi kemerdekaan dan kemajuan bagi seluruh rakyat Asia-Afrika.

Momentum peringatan KAA dan NAASP pada April mendatang, juga harus digunakan bagi rakyat di Indonesia khususnya, dan Asia-Afrika secara umum untuk menghentikan berbagai bentuk praktek diskriminasi, penindasan, kemiskinan dan perbudakan yang telah dihadirkan oleh imperialisme AS selama bertahun-tahun. Rakyat di Asia-Afrika harus bersatu didalam solidaritas internasional yang kuat di dalam perjuangan anti-imperialisme, dengan menghentikan seluruh kerjasama dan perjanjian dengan imperialisme, sebagai upaya untuk menegakkan kedaulatan dalam menentukan nasib sendiri. (red-FPR2015)#

SELESAI…

Advertisements

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s