SERUNI : Akademisi (harus) Berdiri Disisi Rakyat

BIlNxehCcAEjOi6.jpg largeBandung,10/4/2015. Masih berjuang dengan gigih para warga Rembang dan sekitarnya menolak eksploitasi dan eksplorasi tambang yang dilakukan oleh Pabrik Semen Indonesia di Rembang terkait rencana pembangunannya disana. Pendirian pabrik semen akan berdampak pada hilangnya lahan pertanian sehingga petani dan buruh tani akan kehilangan lapangan pekerjaannya dan juga akan menurunkan produktivitas sektor pertanian pada wilayah sekitar karena dampak buruk yang timbul seperti matinya sumber mata air, polusi debu dan terganggungnya ekosistem alam.PT. Semen Indonesia menggunakan akademisi dari perguruan tinggi –UGM dan ITB– untuk membenarkan penambangan yang mereka rencanakan dan sedang ditolak oleh rakyat Rembang. Para akademisi menjadi saksi ahli pada persidangan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dalam perkara gugatan warga Rembang terhadap Gubernur Jawa Jateng terkait penerbitan ijin lingkungan kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia, mereka menyatakan bahwa pegunungan gamping di Rembang termasuk dalam kawasan karst muda yang masif, padat dan bersifat kedap air, batuan tersebut tidak mengandung air tanah, sehingga dapat dikelola termasuk untuk kegiatan penambangan dalam perkara gugatan warga Rembang terhadap Gubernur Jawa Tengah. Sementara di lapangan ditemukan ratusan mata air, gua, dan sungai bawah tanah yang masih mengalir dan mempunyai debit yang bagus, serta fosil-fosil yang menempel pada dinding gua. Warga Rembang dan Lasem menggunakan jasa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengambil air dari gunung watuputih jika terjadi proses produksi semen berpotensi merusak sumber daya air yang berperan sangat penting bagi kehidupan rakyat.

“lagi-lagi akademisi dan perguruan tinggi menjadi kaki tangan kapitalis untuk mencari legitimasi atas pengerukan SDA Indonesia yang jelas memiliki dampak negatif terhadap penghidupan rakyat” ujar Dewi Amelia. Pada hari Jum’at 10 April 2015 akademisi ITB dan PT Semen Indonesia mengadakan Stadium General (kuliah umum) ditengah perjuangan rakyat Rembang menolak pendirian pabrik semen yang berpotensi sangat merugikan dan memiliki dampak negatif yang besar.

“Peran perguruan tinggi dan akademisi seharusnya menjadi jembatan dalam mengatasi permasalahan dan problem pokok rakyat, bukan sebaliknya, dengan pengetahuannya malah merugikan rakyat dengan berbagai penelitian yang menjadi legitimasi dalam pengerukan SDA yang hanya menguntungkan segelintir orang” lanjut Dewi Amelia.
Eksploitasi dan eksplorasi terhadap Sumber Daya Alam selama ini tidak pernah memberikan keuntungan bagi rakyat, Eksploitasi dan Eksplorasi terhadap SDA sejatinya juga merupakan eksploitasi dan eksplorasi terhadap SDM, karena beriringan dengan perampasan tanah, sumber daya alam, dan dijalankannya politik upah murah yang tidak memberikan jaminan kehidupan yang layak terhadap para pekerja.

Untuk itu, Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI) menyerukan kepada Perguruan Tinggi dan para akademisi agar mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan rakyat dan tidak menjadi kepanjangan tangan dari Imperialis dengan memberikan legitimasi atas eksploitasi dan eksplorasi Sumber Daya Alam Indonesia. (red-FPR2015)#

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s