Jelang Peringatan Hari HAM 2016 FPR Gelar Diskusi Gerakan Perempuan

Jelang Peringatan Hari HAM 2016 FPR Gelar Diskusi Gerakan Perempuan

15253541_1879182855647662_4360256475122987725_n
FPR-Jakarta 3/12/2016: “Perempuan menjala setengah langit “ kutipan dari Mao Tze Tung yang di ambil Loreley (Ley) sebagai pemateri pada awal diskusi yang di selenggarakan oleh Front Perjuangan Rakyat (FPR) pada Sabtu (3/12) bertempat di Sekretariat AGRA ( Aliansi Gerakan Reforma Agraria).
Ley menjelaskan arti dari kutipan tersebut bahwa perempuan merupakan bagian dari seluruh pekerjaan yang ada dimuka bumi ini. Perempuan bagian dari segalanya. Selain perempuan bagian dari segalanya bahwa perempuan mengalami penindasan yang berlipat – lipat ganda dan hidup dalam kekangan, dimana perempun di tindas dalam empat hal, yang ke empat hal tersebut dirangkum ke dalam aspek Kebudayaan yakni: dibawah tindasan laki – laki , agama, keluarga dan Klas. Sehingga penindasan dari aspek kebudayaan ini mempengaruhi tindasan perempuan di aspek lainnya seperti aspek ekonomi dan Politik.
Diskusi yang mengambil tema “ Satukan Kekuatan Perempuan, Optimalkan peranannya dalam berjuang bersama rakyat “ ini di hadiri kurang lebih oleh 20 orang Peserta dari berbagai sektor melalaui perwakilan organisasi – organisainya yang tergabung dalam Aliansi Front Perjuangan Rakyat ( FPR ) antaranya : AGRA, GSBI, KABAR BUMI, FMN, dan SERUNI, Mineral dllnya. Peserta yang hadir sangat antusias dan cukup aktif dalam jalannya diskusi, dilihat dari banyaknya pertanyaan bagaimana pengalaman peran perempuan dalam pekerjaan politik, di lain sisi Perempuan harus bekerja sebagai seorang ibu rumaha tangga yang harus mengurus pekerjaan rumah dan mengurus anak.
“Satu hal yang sangat penting dalam menjalakan perjuangan tersebut, haruslah terintegrasi di dalam gerakan rakyat karena persoalan perempuan bagian dari persoalan rakyat “ tutur Ley di akhir Presentasinya.
Diskusi yang di mulai Pukul 21.00 hingga 22.00 wib dengan pemateri dari People Over Profir (POP) Philipina ini diakhiri dengan Kesimpulan yang di paparkan Fitri Ramadhan selaku moderator “ bahwa kita telah memahami bersama Permpuan memiliki masalah yang sama dan berlipat ganda, maka tidak ada jalan lain selain permpuan berjuang bersama rakyat lainnya melawan budaya patriarkal sebagai budaya Feodalisme yang masih eksis di Indonesia, dengan membudayakan hidup berkolektif” ungkapnya.
Seperti pada tujuan dari diskusi tersebut adalah agar Perempuan memiliki pengetahuan untuk menambah kapasitas dalam upaya mengembangan gerakan massa kedepannya. Besar harapan dalam diskusi ini bisa membuka ruang bagi kaum perempuan dalam mengambil peran dalam perjuangan Rakyat. (fr-Red2016)#.

About fprindonesia

Front Perjuangan Rakyat (FPR) adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai komponen pokok perubahan sosial.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s